Perbedaan Kucing, Monyet, Manusia dalam hal makan

 

Perbedaan Kucing, Monyet,  Manusia dalam hal makan

Seri Belajar dari Binatang

Kalau pernah lihat dan perhatikan monyet diberi makan buah, pisang misalnya, pasti kita tergelitik geli. Ketika diberi satu pisang, dia segera mengupas kulitnya (he… he… seperti manusia juga) dan memasukkan ke mulutnya.

Sudah selesai sampai di situ? Ternyata belum. Monyet tidak segera mengunyah pisang itu, apalagi kalau melihat masih banyak persediaan pisang lain. Pisang itu disimpan dalam mulut di balik rahangnya. Tangan monyet segera menggapai minta pisang lagi. Diberi lagi, lalu dia makan lagi hingga kantong rahangnya penuh dan pipi serta lehernya tampak seperti bengkak membesar.

Sudah selesai urusan? Masih belum juga. Monyet minta pisang lagi lalu dia genggam dengan satu tangan. Belum selesai juga, monyet masih mau pisang, lalu dia genggam dengan dua kakinya.

Lalu, terlihatlah pemandangan menggelikan, monyet yang mulutnya penuh makanan, lalu kedua belah tangan dan kakinya masih menggenggam makanan. Itulah contoh keserakahan yang paling sempurna dan menggelikan yang ditunjukkan oleh monyet.

Lain cerita, pernah lihat kucing diberi makan? Ketika kucing diberi makan, misalnya sisa nasi dan tulang ikan, walaupun makanannya ditaruh di atas wadah, dia selalu mengambil sebagian makanan, misalnya kepala ikan, lalu mencari tempat yang dia pandang aman, agar tidak diganggu kucing lain, lalu makan sendiri.

Kalau ada kucing lain mendekat, pasti dia bawa lari makanannya pindah ke tempat lain, atau dia makan sambil “menggerutu”. Ya memang begitulah kucing kalau makan. Walaupun ada istilah malu-malu kucing, sebenarnya kucing tidak tahu malu.

Melihat ulah kucing makan, yang suka makan sendiri dan sembunyi-sembunyi ternyata tidak kalah menggelikan.

Lalu bagaimana kalau manusia makan? Jawabannya ada dua macam. Kalau manusia makan, di sebuah pesta perkawinan misalnya, pada umumnya sopan-sopan. Semua tertib antre, tidak ada yang berebutan (he… he… kecuali sesekali ada juga).

Saat mengambil makanan, kebanyakan orang mengambil makanan secukupnya (he… he… walau ada juga sesekali yang mengambil banyak hingga makanan di piringnya menggunung).

Dalam urusan makanan sesungguhnya, di meja prasmanan, pada umumnya manusia amat sopan, tidak seperti monyet dan kucing.

Tapi dalam urusan “makanan” yang lain, banyak manusia yang naudzubillah min dzalik, makannya lebih serakah dari monyet dan lebih suka makan sendiri melebihi kucing, dan juga menggelikan. Makanya, tidak heran jika muncul istilah manusia “makan aspal”, “makan beton”, “makan proyek” dan “makan teman sendiri”. Manusia tidak lagi bertanya apa, tapi makan siapa hari ini.

About these ads

~ by Nina on March 18, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: