Keadilan dalam Hidup

Keadilan dalam Hidup

 
“Mereka yang membenci kehidupan
karena menurutnya hidup ini tidak adil,
karena dia tak pernah merasakan
kecukupan seperti orang lain.
 
kita merasa cukup bukan karena memiliki,
tapi karena mensyukuri.

hati yang mengeluh akan melihat apa pun
lebih baik daripada yang telah dimilikinya.

marilah kita lebih bersyukur,
agar kita mulai bisa melihat kehidupan
dengan mata dan hati yang adil.”

 
Dalam kehidupan ini, kita selalu berhadapan dengan aneka rupa masalah. Kadang kita merasa senang, bahagia, bangga; kadang kita juga merasa sedih, lara; kadang pun kita merasa luluh, terjatuh; bahkan, terkadang kita merasa ‘jenuh’ dan mengeluh. Tidak jarang dari kondisi-kondisi seperti ini membuat kita kehilangan gairah hidup, bosan, berputus asa bahkan sampai ‘membenci’ kehidupan itu sendiri – apa yang telah terjadi dan apa yang telah dimiliki plus yang ‘tidak’ dimiliki. Memang, manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya!
 
Memiliki sesuatu yang diidam-idamkan – apalagi sudah sejak sekian lama – tentu sangat membahagiakan. Tak peduli berapa pun besar pengorbanan yang telah dilakukan; ‘keberhasilan’ itu sudah lebih dari cukup untuk menghapus segalanya. Kata pepatah orang Minangkabau: “Paneh sataun hilang dek ujan sahari (= Kemarau satu tahun bisa hilang lenyap karena hujan satu hari).” Bahkan, perasaan ‘membumbung mega’ itu terkadang jauh lebih besar daripada ‘derita’ dalam pengorbanan, perjuangan dan kesetiaan pada ‘pencapaian target’ yang diusahakan. Gubuk derita terasa istana; kambeh dimakan terasa fried chicken; kasur reot terasa spring bed! Ya, karena hati sedang ‘berbunga-bunga di angkasa raya’!
 
Situasinya akan jauh berbeda jika ‘impian’ – yang telah dibangun berbilang tahun – tidak kunjung menjadi kenyataan; bahkan, ‘kelihatannya’ sudah tidak mungkin untuk diwujudkan. Semuanya dirasa sudah tidak berguna; sia-sia belaka. Lalu, mereka ‘lumpuh’; kerdil jiwa dan pikiran. Dalam hatinya timbul benih-benih ‘kebencian’ terhadap kehidupan karena kehidupan sepertinya tidak adil. Jika dia memperhatikan orang lain yang ‘sukses’ merebut impian yang sama dan dengan ‘terang-terangan mengumbar kepada khalayak ramai’, dia akan merasa sangat tersiksa – jiwa dan pikiran. Perbandingan itu membuat ‘angkara murkanya’ bertambah parah hingga sampai tak ‘terarah’.
 
Perjalanan hidup akan terasa lebih ‘panjang’ dan ‘bermakna’ jika yang menjalaninya mensyukuri; mensyukuri apa yang telah terjadi dan apa yang telah dimiliki. Merasa cukup apa yang ada – walaupun tidak memilikinya. Jika telah mensyukuri, hati bisa tertata rapi dan memandang apa yang tidak dimiliki sama baiknya dengan apa yang telah dimiliki. Jika dikurangkan dalam sesuatu hal, kita akan dilebihkan pada sesuatu hal yang lain. Kehidupan ini sudah adil sejak diciptakan-Nya; tak ada yang berubah. Dengan mensyukuri, ‘mangkuk hati’ akan dibuatkan-Nya ‘memuai’ layaknya alam semesta. Jujurlah pada hati sendiri!

~ by Nina on December 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: