Keadilan Ilahi

Keadilan Ilahi

Pendahuluan (1)
Artikel pendek ini menguraikan tentang tiga hal:

  1. Pengertian Keadilan Ilahi, kemustahilan bagiNya untuk melakukan ketidakadilan serta perintah Allah untuk menegakkan keadilan
  2. Bahwa evolusi masyarakat manusia di dunia adalah menuju kemenangan keadilan dan para pengikut keadilan di bawah kepemimpinan Al-Mahdi ‘as.
  3. Pembuktian singkat eksistensi Al-Mahdi ‘as , dan bahwa eksistensi Al-Mahdi ‘as didukung oleh hadis-hadis yang mutawatir baik dari jalur periwayatan Sunni maupun Syi’ah, dan diisyaratkan oleh banyak ayat dalam Al-Quran al-Karim.
  4. Bahwa penantian kehadiran Al-Mahdi ‘as beserta kemenangan keadilan di akhir zaman semestinya meningkatkan daya juang ummat untuk senantiasa tak kenal lelah merealisasikan kebaikan, keindahan dan kebenaran, dan meneggakkan keadilan. Keyakinan terhadap Al-Mahdi ‘as membangun pandangan dunia yang optimis, tidak apatis; membuat agama tidak menjadi candu , namun agama menjadi obat sosiopathology.

Pengertian (2): Keadilan Ilahi

Keadilan dalam maknanya yang terluas adalah meletakkan setiap hal pada tempatnya yang tepat.

Makna Ilahiah Keadilan adalah layak bagi Wajib al-Wujud bahwa Ia adalah khayrun mahdhun (Kebaikan Murni) dan sungguh Ia adalah Mahapemurah, Mahapengasih, Mahamemelihara. Seluruh Kesempurnaan Sifat-SifatNya , dilihat dari satu sisi, berakar pada Keadilan. Hal ini adalah karena adalah hal yang tepat dan selayaknya bagi Wajib al-Wujud yang Mahakaya dan Mahaindependen lagi Mahabajik, untuk Pemurah, Pengasih dan Memelihara segenap semesta. Betapa layak bagi Yang Mahakaya untuk mengasihi semesta wujudat al-imkaniyyah (keberadaan-keberadan yang mungkin), yang secara hakiki miskin, cacat dan membutuhkan.

Keadilan Tuhan terehadap ciptaannya bermakna bahwa Tuhan pasti mengkaruniakan kepada setiap makhluk apa yang patut baginya dan berguna baginya. KeadilanNya tidak pernah terlepas dari KemahabijakanNya, yakni, Ia menciptakan sekalian makhluk dengan maksud dan tujuan yang pasti. Kebijaksanaan Ilahi memestikan kemajuan makhluk-makhluk hidup ke arah tujuan dan kesempurnaan eksistensialnya.

Prinsip hidayah universal adalah manifestasi KeadilanNya juga, yakni adalah sepatutnya bagi Ia memberi petunjuk bagi seluruh ciptaanNya untuk menuju kesempurnaan dan kebaikannya masing-masing. Pengutusan para nabi, rasul dan penunjukan para imam untuk membimbing dan menunjuki dan membimbing manusia dan semesta serta memastikan bahwa mereka bertransformasi menuju kesempurnaannya, adalah realitas dari prinsip hidayah universal. Oleh karena itu prinsip nubuwwah, risalah dan imamah adalah juga manifestasi dari KeadilanNya.

Realitas kehidupan kembali dan kebangkitan jiwa manusia setelah kematiannya juga adalah manifestasi dari KeadilanNya. Oleh karena itu, tidak salah bila Keadilan menjadi prinsip fundamental yang menghubungkan antara Tuhan Yang Maha Pemurah dengan ciptaannya.

Maha Suci Ia Yang Mahaadil lagi Mahapemurah! Jauh Ia dari seluruh kezaliman. Sungguh , Dia-lah yang selalu melakukan yang patut bagi Keagungan dan KepemurahanNya, yakni yang terbaik bagi semesta ciptaannya.

 

Pengertian (3): Keadilan sebagai prinsip eksistensi semesta

Rasulullah SAW bersabda:

“Melalui keadilan, langit dan bumi ada.”

Sebagai contoh bila keseimbangan gaya-gaya di dalam trilyun trilyun trilyun…. atom lenyap selama satu saat. Maka seluruh atom akan runtuh , dan semesta material langsung lenyap tanpa sisa!

Contoh lain, bila tiba-tiba sistem pengendalian suhu tubuh manusia di dunia tidak berjalan selama satu jam saja, maka kehidupan manusia di muka bumi akan sirna.

Contoh lain, bila bumi tiba-tiba berhenti berputar mengelilingi matahari, maka bumi akan dengan segera mendekat ke matahari dan sirna.

Keadilan, dalam arti , semua dalam semesta ini ada pada posisinya yang paling patut dan paling tepat, dapat dilihat mulai zarah atom terkecil hingga super galaxy. Mulai dari elektron hingga organisme-organisme yang hidup. Mulai dari inti bumi, hingga puncak Himalaya, ataupun atmosfer terluar bumi.

Sabda Rasulullah SAW mungkin dapat dimaknai bahwa,  keadilan sebagai prinsip semesta yang menopang keberadaan semua yang ada di langit dan bumi .

Pengertian (4): Keadilan Ilahi dalam kehidupan manusia

Makna keadilan dalam kehidupan manusia adalah, bahwa selayaknya setiap manusia memperoleh apa yang patut baginya dan berguna baginya.

Seorang anak kecil patut memperoleh kasih sayang dari orang-tuanya. Orang tua patut memperoleh cinta dan penghormatan dari anaknya.

Seorang istri patut memperoleh nafkah lahir batin dari suaminya. Seorang suami patut memperoleh kasih-sayang dan pendampingan lahir batin dari istrinya.

Seorang murid patut memperoleh pendidikan dari gurunya. Seorang guru patut memperoleh rasa terima kasih dan penghormatan dari muridnya.

Makna lain keadilan adalah, mempertimbangkan hak orang lain. Oleh karena itu, adalah tidak adil untuk merampas hak orang lain. Juga adalah tidak adil untuk membedakan hak seseorang karena ras dan faktor lain.

Keadilan Ilahi bermakna bahwa Tuhan pasti mengkaruniakan kepada setiap manusia apa yang patut baginya dan berguna baginya. Kemahabijakan Tuhan, yakni, Tuhan telah menciptakan sekalian manusia  dengan maksud dan tujuan yang pasti. Kebijaksanaan Ilahi memestikan kemajuan manusia ke arah tujuan dan penyelesaian yang dikehendaki.

Seorang manusia yang berbuat kebaikan patut memperoleh kebaikan. Seorang manusia yang berbuat keburukan patut memperoleh keburukan.

Adalah suatu kemustahilan Tuhan memberikan keburukan sebagai hasil dari kebaikan yang dilakukan manusia.

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)
(QS 55 (AR-RAHMAN): 60)

Dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. “
(QS 99 (AL-ZALZALAH):7-8)

Pengertian (5): Keadilan adalah totalitas semua kebajikan

Dalam salah satu magnum opusnya, Nichomacean Ethics, Aristoteles mengatakan bahwa keadilan bukanlah hanya satu kebaikan, atau bukanlah hanya satu kebaikan yang utama. Keadilan, menurut Aristoteles, adalah summum bonum of all goods. Dalam bahasa sederhanyanya, keadilan adalah totalitas dari semua kebaikan.

Dari pengertian ini, karena Wajib al-Wujud adalah khayrun mahdhun dan sumber emanasi pertama seluruh kebaikan yang terwujud dalam semesta, maka sesungguhnya bisa disimpulkan beberapa hal.

  1. Bahwa Wajib al-Wujud bersifat adil
  2. Bahwa satu-satunya yang benar-benar adil dalam maknanya yang paling hakiki adalah Dia Sendiri
  3. Semua yang adil selainNya adalah memperoleh keadilan dari pancaran KeadilanNya dan tidak pernah akan menyamainya dalam keadilan
  4. Oleh karena itu Wajib al-Wujud dinamai juga sebagai Zat Yang Mahaadil. Sungguh Dia adalah Al-‘Adl.


Pengertian (6): Keadilan adalah meletakkan segala sesuatu sesuai dengan posisi dan kepatutannya

Sungguh Dia-lah yang telah memberi bentuk pada segala sesuatu, menempatkan segala pada posisi setepat-tepatnya hingga mereka semua melaluinya memperoleh limpahan KebaikanNya dalam mencapai kesempurnaan eksistensinya. Maha Suci Dia Yang Maha Adil! Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin dalam Nahjul Balaghah khotbah ke 437, bahwa keadilan adalah

“meletakkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya”.[1]

Sungguh Tuhan Yang Mahaadil telah meletakkan segala sesuatu pada posisinya yang paling sempurna.

 

Pengertian (7): Keadilan bukanlah persamaan

Keadilan tidak selalu berarti persamaan. Seringkali keadilan berarti perbedaan.

Tidak adil bagi sebuah perusahaan untuk memberikan kompensasi yang sama pada para karyawan yang bekerja dengan prestasi yang berbeda-beda. Tidak adil bagi seorang guru untuk memberikan nilai yang sama pada semua siswa. Tidak adil bagi seorang hakim memutuskan hukuman yang sama pada dua orang yang bersalah yang besar dan dampak kesalahannya jauh berbeda.

Tidak adil untuk memperlakukan yang berbuat baik dan berbuat buruk sama. Memperlakukan yang berbuat baik sama dengan yang berbuat buruk adalah ketidakadilan (kezaliman).

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia, tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka bakal masuk neraka.

Patutkah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah juga Kami memperlakukan orang –orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shad: 27-28)

Al-Qur’an juga mengatakan :

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik?(QS as-Sajdah [32]:18)

Bukti (8): Bahwa mustahil bagi Wajib al-Wujud untuk melakukan ketidakadilan sekecil apa pun

Ketidakadilan adalah karena beberapa hal.

  1. Kebodohan. Terkadang seorang berbuat zalim karena ia tidak tahu dan tidak menyadarinya.
  2. Kebutuhan. Adanya kebutuhan seseorang akan sesuatu bisa menciptakan bias, sehingga menimbulkan kezaliman.
  3. Ketakmampuan. Ada kalanya seseorang tidak mampu melakukan keadilan walaupun ia menginginkan untuk melakukannya, sehingga ia terlibat pada ketidakadilan.
  4. Egoisme. Sering egoisme membuat seseorang melanggar hak orang lain, atau melakukan sesuatu yang tidak patut untuk dilakukan. Di antara egoisme juga adalah dendam, amarah dan lain-lain.

Sedangkan Wajib al-Wujud

  1. Mahatahu, sehingga mustahil baginya kebodohan apapun. IlmuNya meliputi segala sesuatu dengan suatu sifat
  2. Mahakaya, sehingga bebas dari semua kebutuhan. Sungguh Ia adalah Kesempurnaan Hakiki sehingga mustahil membutuhkan apa pun selain DiriNya.
  3. Mahakuasa, sehingga bebas dari semua ketakmampuan dan kelemahan.
  4. Mahabaik, sehingga bebas dari semua “egoisme”. Bahwa Wajib al-Wujud adalah khayrun mahdhun (kebaikan murni). EksistensiNya melimpahkan kebaikan maksimal bagi seluruh ciptaannya.

Maka Mahasuci Ia dari semua ketidakadilan apa pun ! Mustahil bagiNya untuk melakukan ketidakadilan sekecil apa pun!

Ia, Yang Mahasuci lagi Mahaagung, berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS YUNUS[10]:44)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS AN-NISA[4]:40)

Dan tentang hari kebangkitan , Ia, Yang Mahasuci lagi Mahaagung, berfirman;

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.….. (QS 21:47)


Catatan (9): PerintahNya agar manusia melakukan keadilan dan menolak kezaliman

Pada satu sisi, Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, memerintahkan manusia untuk menegakkan keadilan. Di sisi lain, pada saat yang sama, Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang juga memerintahkan manusia untuk menolak kezaliman.

Al-Qur’an mengatakan;

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS an-Nahl[16]:90)

Menegakkan keadilan dan menolak kezaliman adalah salah satu bentuk kebaikan tertinggi yang dilakukan manusia. Melaluinya, manusia mencerap Sifat Ilahiyah Al-‘Adl, yang merupakan totalitas dari Kebaikan Ilahi.

Di sisi lain, tidak menegakkan keadilan atau tidak menolak kezaliman merupakan jalan yang dengan cepat akan menjauhkan manusia dari haribaan Kasih dan KepemurahanNya. Seseorang yang membiasakan dirinya dalam tidak menegakkan keadilan atau tidak menolak kezaliman akan mengalami penurunan terus menerus dari sisi kapasitas dirinya untuk menerima limpahan Kasih dan KepemurahanNya.

 

Bukti (10) : Keadilan dan Tiga Pandangan Evolusi Dunia

Bagaimana dengan evolusi dunia menuju akhir perjalanannya ?

Ada yang berpandangan bahwa manusia mengalami degradasi dalam perjalanan sejarahnya. Sejarah menunjukkan bahwa seringkali para penindas dan tiran menang, dan kadang mereka tidak memperoleh balahsan yang setimpal di dunia.

Mereka yang berpandangan seperti ini terbagi dalam dua kemungkinan.

Yang pertama, menjadi nihilis yang apatis; dan menganggap the survival of the fittest adalah hukum alamiah yang berlaku baik dalam dunia hewan maupun masyarakat manusia. Pandangan pertama banyak didukung oleh golongan ateis.

Yang kedua, mereka meyakini bahwa akhirat adalah jawaban bagi masalah keadilan. Para tiran akan diadili di akhirat. Dunia adalah penjara bagi orang-orang baik, dan surga bagi orang-orang durhaka. Mereka menganggap bahwa the world as it is adalah tempat kekalahan orang-orang yang baik dan benar, sebagai ujian bagi mereka. Dalam dunia pemikiran Islam, pemikiran ini telah dicoba dijustifikasi dengan berbagai dalil naqli maupun aqli.

Alternatif pandangan lain adalah sebagai berikut; bahwa masyarakat manusia berevolusi menuju kesempurnaan eksistensialnya terus menerus. Kezaliman meningkat seiring dengan perjalanan waktu, namun di sisi lain keadilan dan kebenaran pun meningkat seiring dengan perjalanan waktu.

Semakin lama para pengikut kebenaran yang setia semakin teruji dan terasah dan meningkat kualitasnya. Dan siapakah yang akan menang di dunia untuk terakhir kalinya ? Tidak lain adalah kebenaran. Dan dunia akan diwarisi oleh para ahli keadilan dan kebenaran. Dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba murni Ar-Rahman Ar-Rahim.

Nampaknya pandangan yang terakhir adalah pandangan yang lebih mendekati kebenaran. Dunia dan segenap isinya tidak mungkin diciptakanNya untuk kesia-siaan. Dalam dunia ini Ia juga akan memenangkan keadilan dan kebenaran, dan di akhirat kelak Ia akan kembali memenangkan keadilan dan kebenaran dengan intensitas eksistensi yang jauh lebih tinggi dan lebih permanen.

Pandangan yang terakhir tidak mengkontradiksikan dunia dan akhirat, namun berpandangan bahwa dunia adalah selaras dengan akhirat, dan ada kesinambungan yang lebih harmonis antara watak eksistensial evolusi masyarakat manusia di dunia dan kehidupannya kelak di akhirat.

Dalam bagian-bagian berikutnya akan ditunjukkan betapa kuat dalil ‘aqli maupun naqli yang membuktikan eksistensi Al-Mahdi , – figur yang akan membawa keadilan menjadi pemenang di segenap penjuru dunia di akhir zaman.

Bukti (11) : Eksistensi Al Mahdi yang akan muncul dan menyebarkan keadilan di akhir zaman adalah Manifestasi

  1. “Allah akan membangkitkan seorang laki-laki dari keturunanku, dari Ahlu baitku. Dengannya bumi akan dipenuhi keadilan secara menyeluruh sebagaimana telah dipenuhi oleh ketidakadilan dan penindasan sebelumnya.`[2]
  2. “Bumi dipenuhi dengan keburukan dan kezhaliman, lalu keluarlah seorang laki-laki dari keturunanku, ia berkuasa selama tujuh atau sembilan tahun, setelah itu bumi dipenuhi dengan keseimbangan dan keadilan. [3]
  3. “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga bumi dipenuhi dengan kezhaliman dan permusuhan, ” beliau bersabda: “Kemudian akan keluar seorang laki-laki dari keturunanku atau dari ahli baitku yang akan mengisi bumi dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezhaliman dan permusuhan.”[4]
  4. “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga seseorang dari ahli baitku yang tinggi dan hidungnya mancung berkuasa, keadilan akan memenuhi bumi sebagaimana sebelumnya kezhaliman memenuhinya, hal itu akan berlangsung selama tujuh tahun.”[5]

Berita-berita tentang al-Mahdi yang diriwayatkan dari Nabi saw termaktub dalam berbagai kitab baik dari kutub as-sittah (enam kitab shahih), kutub at-tisy’ah (kitab sembilan ahli hadis terkemuka), maupun kitab-kitab lain. Di antaranya adalah termaktub dalam Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi,Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Daraquthni, Ibn Amr ad-Dawani, Ibnu Ya’la, Mustadrak Hakim an-Naisyaburi, al-Bazzaz, Ma’ajim ath-Thabrani, Ruyani, Abu Na’im dalam Akhbarul Mahdi, Khathib dalam Tarikh Baghdad, Ibnu Asakir dalam Tarikh ad-Dimsyaqi dan lain-lain.

Sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis tentang Al-Mahdi di antaranya adalah;

1.    Utsman ibn Affan
2.    Ali ibn Abi Thalib
3.    Thalhah ibn Ubaidillah
4.    Abdurrahman ibn Auf
5.    Ghurrah ibn Asas al-Mazni
6.    Abdullah ibn Harits
7.    Abu Hurairah
8.    Hudzaifah ibn al-yaman
9.    Jabir ibn Abdullah
10.    Abu Umamah
11.    Jabir ibn Majid
12.    Abdullah ibn Umar
13.    Anas ibn Malik
14.    Imran ibn Hashin
15.    Ummu Salamah

Para ulama yang menyatakan secara tegas bahwa hadis-hadis mengenai al-Mahdi bersifat mutawatir di antaranya adalah

1.    Asy-Syaukani dalam kitabnya, Fath al-Mughits
2.    Muhammad ibn Ahmad as-Safawini dalam Syarh al-Aqidah
3.    Abul Hasan al-Abari dalam Manaqib asy-Syafi’i
4.    Ibnu Taimiyah dalam Fatawa
5.    Suyuthi dalam al-Hawi
6.    Idris al-‘Araqi dalam kitabnya tentang al-Mahdi
7.    Muhammad Ja’far Kanani dalam Nazm at-Tanatsur

Dengan penjelasan di atas, jelas bahwa bumi akan diwariskannya pada seorang laki-laki saleh dari keluarga Muhammad saw, yakni Imam Al-Mahdi ‘as beserta pengikutnya. Tidak diragukan lagi Beliau akan muncul dan bangkit di akhir zaman dan bersama para pengikutnya akan menegakkan tatanan dunia yang sempurna dan Ilahiah.

Bukti (12): al-Mahdi ‘as. dalam al-Qur’an

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka…”
(QS 24 (AN-NUR): 55)

Almarhum Thabarsi mengatakan tentang ayat ini; bahwa diriwayatkan dari keluarga Nabi saw. (Ahlulbait) bahwa, “Ayat ini adalah tentang al-Mahdi, yang berasal dari keluarga Nabi saw.” [6]

Dalam Ruhul Ma’ani dan banyak kitab tafsir lainnya, mengenai ayat ini, diriwayatkan dari Imam Sajjad yang mengatakan, “Demi Allah, mereka adalah Syiah (pengikut) kami (Ahlulbait). Allah swt. Melakukan hal ini untuk mereka melalui tangan seorang laki-laki yang berasal dari kami, dan dia adalah al-Mahdi (yang terbimbing) umat ini. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi penindasan dan tirani. Ia adalah orang yang dikatakan Nabi saw, ‘Seandainya umur dunia ini hanya tinggal satu hari saja….’”

Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kehadiran Al-Mahdi ‘as di akhir zaman. Di antaranya adalah: QS 9:32-33, QS 61: 9, QS 21:105 , QS 81:15-16, QS 67:30, dll.

~ by Nina on December 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: