Kejujuran dan kebohongan

Kejujuran dan kebohongan
 
Kejujuran dan kebohongan; dua kata yang saling bertolak belakang. Satu putih, satu hitam. Satu dipuja, satu dicerca. Satu yang langka, satu yang ‘biasa’. Begitulah elegi dua kata ini bercerita.
 
Kedua kata membumbui historia manusia, sepanjang masa. Dari keduanya, cerita berakhir dengan suka dan derita; konflik dan intrik. Damai dan perang bermula dari kedua kata; maknanya sering terdistorsi oleh kepentingan semu semata. Dengan dasar dan dalih menjaga wibawa sebatas syak wasangka, makna kedua kata diputarbalik dengan sengaja. Ujung-ujungnya bisa menghilangkan nyawa tak berdosa dan papa.
 
Gambaran di atas mungkin sedikit berlebihan. Fakta yang berbicara justru mengindikasikan yang demikian. Kejujuran dan kebohongan sudah dibolak-balik dan diobrak-abrik maknanya; yang tertinggal sekarang hanyalah sepah-sepah tak berguna pengoyak rasa.
 
Kejujuran sekarang ibarat “barang langka”; orang yang masih setia dan teguh kepadanya pun masuk kategori “manusia purba dan langka”. Sebaliknya, kebohongan sudah dianggap “biasa” – seperti kebutuhan ekstra. Aneh rasanya bila masih ada manusia di zaman ini yang polos, lugu, jujur dan “apa adanya”. Justru manusia pembohong dianggap “raja” melebihi segalanya.
 
Orang jujur, seringkali dijadikan “objek”; bukan “subjek”. Orang jujur seringkali dijadikan “budak” – setidaknya kelinci-kelinci percobaan dalam percaturan kehidupan zaman untuk kemudian menjadi kambing hitam dalam menutupi sebuah kebohongan. Orang jujur juga seringkali dianggap “benalu” sehingga perlu “disingkirkan secara sistematis, metodis dan terpadu”. Pun orang jujur seringkali tak dianggap “ada” walaupun mereka ada; tak “digubris” walaupun mereka “kritis”. Atau setidaknya, orang jujur dihambat untuk melakukan sesuatu – yang baru dan bermanfaat – meski mereka tidak pernah menghambat.
 
Lain halnya dengan orang yang tidak jujur alias pendusta lagi pembohong – setidaknya yanhg “mengaku jujur”. Mereka sering sebagai “subjek” kehidupan moderen. Mereka cenderung mendayagunakan segalanya – yang putih dan yang hitam – untuk menggapai tujuan-tujuan. Mereka bangga akan “prestasi” seperti ini; prestise. Kalau perilaku bobrok mereka terkuak – sengaja atau tidak – barulah mereka kelabakan dan centang-perenang lalu kasak-kusuk menutupi bahkan mencari kambing hitam (bukan kambing yang bulunya berwarna hitam, Red).
 
Orang jujur adalah orang yang damai dan mendamaikan; orang yang ikhlas dalam ketaksempurnaan sebagai manusia biasa. Orang yang menang meskipun kelihatan pecundang. Orang yang berjiwa tangguh meskipun kelihatan “rapuh”. Orang yang memulihkan jiwa meskipun sering terpapar derita. Orang yang mampu merasakan kenikmatan keajaiban dalam tindakan rencananya. Orang yang mampu “bermain mulus” dan melalui “perangkap kontradiksi” yang menjatuhkan dengan anggun dan sabar.
 
Meski demikian, kejujuran juga sering memakan “korban”; setidaknya hubungan kekerabatan atau pertemanan yang bisa hilang di balik awan, terbawa bersama indahnya kenangan. Mungkin itu juga yang membuat sebagian orang berpaling dari kejujuran; tidak bersedia mengalami kehilangan. Atau setidaknya, mereka ragu – meragukan janji Yang Maha Satu. Dilema besar meski harus dilalui dengan sabar dan tegar….
 
“Hanya orang jujur yang bisa menikmati indahnya dan damainya dunia ….”

~ by Nina on December 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: