Ketiadaan Keburukan

Ketiadaan Keburukan
 
Wujud murni tiada berbatas adalah hakikat segala. Dan sungguh wujud itu sempurna. Bebas dari semua kekurangan. Dan bahkan wujud adalah kesempurnaan itu sendiri. Sedang segala sesuatu selain wujud secara essensial adalah cacat dan kurang. Secara essensial mereka itu faqir. Tapi karena segala sesuatu selain wuj ud hanyalah ada sebagai mahiyyah dalam imajinasi, maka Terpujilah Tuhan Yang Maha Kaya dari segala kekurangan. Terpujilah Realitas dari segala hal. Hanya Ia-lah Yang Ada dan tiada selain Ia. Maka dalam pandangan orang-orang yang dikaruniai bashiiroh, dzauq dan kasyf al-wujuud, keburukan tidak mempunyai keberadaan dalam segenap alam ini. Yang ada hanyalah Kebaikan.

Karena itu, para wali Allah mesti – lah mencapai tingkatan, “Alaa inna auliyaa `alloohi laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. ” “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Karena apa yang perlu dikhawatirkan lagi, sedang Segela adalah Kebaikan, dan tidak ada keburukan. Sakit dan nikmat, hanyalah menunjukkan Lautan Kenikmatan yang tak mungkin pernah dapat dirasakan sempurna oleh makhluk. Baik dan buruk, hanyalah menunjukkan Lautan Kebenaran yang tak mungkin pernah diarungi oleh makhluk, bahkan tak ada batasnya. Senang dan sedih, hanyalah menunjukkan Samudera Kebahagiaan yang dirahmatkan oleh wujud murni kepada makhluknya yang tak mungkin menampung keseluruhannya.

Wujud murni tiada berbatas, tak punya lawan. Salahlah orang yang membayangkan setan dan iblis sebagai lawan Tuhan. Bahkan setan dan iblis, – yang kadang diyakini sebagai sumber keburukan dan kejahatan-,  tak memiliki wujud yang mandiri. Tuhan, wujud mutlak tanpa batas, tak bisa dibandingkan dengan  apa pun , juga ia tak ada sesuatu apa pun yang dapat di-”lawan”-kan dengan-Nya dari semua sudut pandang. Maha Suci Ia dari semua apa yang mereka sifatkan.

Maka derita dan kesedihan bukanlah keburukan, namun justru merupakan segi – segi cerlang Kesempurnaan penciptaan. Sakit dan derita wujud sama sekali bukan merupakan kekurangan, namun adalah keniscayaan Kesempurnaannya sendiri. Demikian, ketika seorang pencari Tuhan mencapai penyingkapan hakikat wujud tertentu, ia akan terlarut dalam Samudera Cinta pada Tuhan yang dipenuhi dengan onak dan duri. Onak dan duri yang amat menyakitkan dan memerihkan. Adalah onak rindu kepada Tuhan sebagai wujud tunggal, dan duri – duri hasrat untuk melihat Dia, Huwa yang merupakan hakikat wujud mutlak yang tak akan pernah terjangkau. Yaa Huwa, yaa man laa ya’lamu man Huwa, wala aina Huwa, walaa kaifa Huwa, walaa haitsu Huwa illa Huwa. Wahai Dia, wahai yang tak mengetahui Siapakah Dia, di manakah Dia, bagaimanakah Dia, sedang dalam keadaan bagaimanakah Dia kecuali Dia.

Seseorang yang mencapai tauhid terendah, – yaitu tauhid af’al-, tidak akan pernah mengeluhkan keadaan apa pun dalam kehidupan ini. Karena mereka melihat bahwa pe-laku ( baca : pe-wujud) dari semua yang ada hanyalah Ia Yang Maha Tunggal. Dan tak ada serikat bagi – Nya dalam perbuatan (baca : pe-wujud)-Nya. Dan bahkan dalam pandangan para ‘arif yang telah mencapai tauhid dzat,  tak ada keburukan apa pun dan tak ada kekurangan apa pun yang memasuki alam (baca : Samudera Wujud) ini. Maka mereka semua akan selalu ridho terhadap semua yang terjadi dalam realitas ini.  Allah ridho pada mereka, dan mereka – pun ridho pada – Nya.

Maka adalah sebuah ciri orang yang telah mencapai tauhid; adalah senantiasa ridho dan wajahnya membekaskan lautan kenikmatan. Tidak terlalu gembira dengan apa yang menyenangkannya, tak pula terlalu sedih dari apa yang luput.  Wujuuhun yauma`idzin naa’imah. Lisa’yihaa roodhiyah. Wajah – wajah yang selalu dipenuhi dengan syukur nikmat. Sebagaimana Nabi Ayyub (a.s.) tetap bersyukur kepada Allah setelah tujuh tahun dihinggapi derita kusta yang amat payah. Dan mungkin sebuah ciri lain adalah tak pernah terburu – buru atau mengejar sesuatu yang menjadi hasratnya. Bukankah Imam ‘Ali (a.s.) telah berkata dalam doa Kumail; waf ‘ al bimaa anta ahluh (lakukan apa yang Engkau adalah ahlinya). Atau meminjam perkataan Maulana Rumi; aku – lah ikan , Engkau – lah Lautan, genggamlah aku sebagaimana yang Engkau sukai. Sungguh, Cinta kepada Allah, akan melenyapkan seluruh keburukan dan menggantinya dengan  Kebaikan. Dan Cinta kepada Allah akan melenyapkan seluruh dualisme – dualisme lain yang menjadi akar dari seluruh kesyirikan di dunia. Maulana Rumi berkata; Cinta kepada Allah melenyapkan semua kesulitan, seperti matahari di siang hari melenyapkan semua bayangan.

Apa pun adalah kebaikan. Apa pun, kebaikan adanya. Apa pun, adalah wujud Kebaikan dan Kesempurnaan Tuhan Yang Maha Semarak.

demikian tak ada baik tak ada buruk
yang ada hanyalah Ia sendiri

tak ada nikmat tak pula duka
yang ada hanyalah Sepi sendiri

tak pula tangis tak pula tawa
Bahagia dalam Perih Ceruknya Rindu

tak pula sedih tak pula girang
Ia Gemilang dalam Cahaya-Nya sendiri

maka demikianlah, tidaklah Ia puji
melainkan Muhammad sendiri

dan tak patut Ia puji
selain Muhammad sendiri

sehingga dilelautan dan gegunungan
yang ada hanyalah Muhammad sendiri

di awan pun , di langit pun, di ‘Arsyi pun
Gemilang Terang Muhammad sendiri

tak kan berkilau intan tanpa gosokan
Tak kan Bercahaya Muhammad tanpa derita

maka benarlah Rasul yang mengatakan,
“Tak seorang nabi pun yang menderita seperti apa yang kuderita”

bukankah Imam Shadiq(a..s.) mengatakan,
“Dan orang yang lemah imannya dan lemah akalnya lemah pula cobaannya.”

Maka kini kukatakan
dengan hati yang bergemeretakan;

Ayyub- Ayyub dalam perahu
Derita ayyub Ribuan Samudera

Tapi Muhammad dan Husein di dalam rahasia “hu”
tiada derita seperih Karbela

Juntai ikal Husaini,
Seribu Wangi Kesturi

Perih sekali darah Karbela,
tiada duka seperih Karbela

Muhammad Nabi tangisi ummatnya
dalam nafas akhirnya, “ummati” adalah gumannya

Tapi ummatnya mengucur darahnya
membantai Cucu Nabi biji mata Nabi

Oh mereka mengharap syafa’at
sembari menyiksa Cucu Nabi hingga sekarat

Oh, mereka mengharap kasih sayang Nabi
sembari menyeret wanita-keluarga Nabi hingga sekarat

Oh, mereka berkata kucinta Nabi
sambil menghancurkan biji-mata Nabi

Oh, mereka berkata kuberiman pada Nabi,
sembari melaknat keluarga Nabi

Terkutuklah mereka semua, di awal dan di akhir
terlaknatlah mereka semua, dalam jahannam kehinaan

Mereka katakan, kucinta Nabi
sembari membiarkan bayi Asghar kehausan

Mereka katakan kuberiman kepada Nabi?
sembari menombak cucu Nabi yang masih bayi?

Mereka katakan kumalu pada Nabi?
sembari mempermalu Zainab dan wanita-wanita Nabi

Mereka katakan kucinta kerabat Nabi,
tapi enggan meratapi Kepala Husain?

Terkutuklah orang yang mendengar berita kepala Husain
dan tak meratapinya hingga kering airmata darahnya

Terkutuklah orang yang mendengar keluarga Nabi tak boleh minum walau seteguk
dan tak mengutuki mereka – mereka yang memperbolehkan binatang minum tapi keluarga Nabi tidak !

Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah berlari – lari
Husein akan tinggalkan aku, Zainab putri Fathimah meratap sendiri

Zainab menangis merintih menjerit di padang Karbela
Yazid  bergembira ria mempermainkan Kepala Kakaknya

Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah merintih sendiri
Lautan darah Keluarga Nabi, Zainab putri Fathimah merintih sendiri

dipersembahkan karangan bunga bagi para hamba nan mencapai ajal
kupersembahkan lautan darah ku bagi para Syahid di Karbela

kerna wangi darahnya melampaui taman gulistan
dan suci darahnya melampaui melati putih

dipersembahkan puja puja dan doa bagi para mukmin nan mencapai ajal
kupersembahkan Jantungku nan Berdarah perih bagi Imam Husain di Karbela

tak pernah kutangisi melainkan Wajah mu
tak pernah kuratapi melainkan Darah mu

tak pernah kurindu melainkan Senyum mu
dikaulah Husein pujaan hati

tak pernah kutangisi melainkan Zainab mu
tak pernah kuratapi melainkan Zainab mu

menggigil tubuh menahan derita
Zainab mu kau tinggalkan oh hancurlah hati

jika Musa dikhianati kaumnya dengan Sapi Samiri
Keluarga Muhammad dibantai dan disembelih ummatnya

jika Ibrahim harus menyembelih Ismail sendiri
Husein menggendong anaknya yang bayi dan ditombak di depan mata sendiri

jika Yusuf dimasukkan dalam sumur yang gelap
Keluarga Husein kehausan kekeringan dalam padang Karbela

Jika sembelihan Ibrahim diganti tuhan dengan domba
Kurban keluarga Muhammad telah tetap Husein Syahid di Karbela

Jika Nuh diselamatkan Tuhan dalam bahtera di samudera
Maka Husein dibantai, darah Keluarga Nabi pun mengucur bak samudera

sayap sayap beterbangan
burung burung bertebaran

Syuhada – syuhada beterbangan
bertemu Nabi Kekasih Tuhan

kering Karbala
hening Karbala

jerit demi jerit Lautan Darah Karbala
Tiada derita seperih Karbala

~ by Nina on December 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: