Kaya atau Miskin

Jika orang ditanya, apakah Anda mau jadi orang miskin atau orang kaya? Pertanyaannya ‘basi’; karena jawabannya sudah bisa ditebak: ingin jadi orang KAYA. Kekayaan akan membuat hidup lebih ‘lapang’; uang banyak berlipat-lipat, kendaraan [yang mewah] banyak mengkilat, rumah istana bertingkat-tingkat; bahkan, istripun cantik memikat – kadang-kadang jumlahnya empat (). Dengan uang yang banyak, Anda bisa membeli apa saja, kapan saja dan dimana saja. Anda pun juga tidak perlu repot-repot cemas dan berpikir njelimet bagaimana nasib garis keturunan Anda kelak. Pun Anda tidak akan kepanasan apalagi kehujanan; karena Anda punya kendaraan yang ‘wah’. Rumah Anda pun juga bisa ‘menampung’ tujuh keturunan – seperti Istana Versailles. Dan…, Anda akan ‘dilayani total’ oleh istri-istri cantik Anda. Singkat kata, jadi orang kaya ibarat surga dunia.
 
Tapi, bagaimana dengan orang miskin? Sudah pasti hidupnya menderita; lahir dan batin. Uangnya sedikit bahkan tak punya, kendaraan hanya kedua kaki, rumah gubug reot dan istri pun cuma tampil ‘seadanya’. Itu masih beruntung; kebanyakan justru ‘minggat’ karena tak tahan hidup miskin. Yang lebih parah lagi; sudah miskin, tak ada yang mau jadi istri. Jadi orang miskin berarti juga harus ‘rela’ dicemooh, dipandang sebelah mata, dihina, dicerca, dicaci, dimaki-maki; bahkan dipermainkan, diusir dan ‘disingkirkan dari peredaran’! Itulah nasib orang-orang termarjinalkan! Apes konsisten!
 
Tapi…, Tuhan itu Maha Adil! Nasib manusia di muka planet Bumi ini seperti roda pedati.  
Ya…, hidup itu tak selamanya di atas; tak selamanya pula di bawah. Hidup itu akan selalu ‘berganti-ganti’. Keadaan apapun yang Anda alami sekarang itu hanyalah SEMENTARA. Anda sekarang kaya [raya], siapa tahu besok Anda bisa jatuh miskin alias bantal [baca: bangkrut total]. Sebaliknya, Anda sekarang miskin [raya], siapa tahu besok Anda bisa ‘naik tingkat’ menjadi orang kaya [raya]. Segalanya itu mungkin; karena setiap kejadian di alam semesta itu bergantung kepada izin-Nya. 
 
“Orang-orang yang [merasa] dikurangkan pada sesuatu hal, maka Tuhan akan melebihkannya pada hal-hal yang lain” () 
 
Orang-orang kaya memang punya banyak ‘kelebihan’ – secara kasat mata. Namun sebenarnya, orang-orang yang ‘sekarang miskin’ juga punya ‘kelebihan’ dan ‘kekuatan’ yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian besar orang miskin mempunyai semangat dan motivasi berusaha yang jauh lebih besar dan hebat daripada orang-orang kaya; mereka sudah ‘tahan banting’ terhadap segala situasi, pantang menyerah – seperti destroyer tank. Dari sisi kemampuan intelektual, mereka orang-orang miskin bisa ‘unjuk gigi’; bahkan sering ‘merajai’. Dan…, orang-orang yang berhasil, besar lagi hebat justru kemudian lahir dari ‘belenggu kemiskinan’; mereka berhasil lepas bagai pegas – laksana roket Katyusha; lepas tak terbendung membubung mega. Malah, orang-orang yang dulunya memandang sebelah mata akan terhenyak, gempar, bertekuk lutut dan…, ‘menangis darah‘!
 
Apa rahasianya? Kerja keras; tidak bermalas-malas. Lalu, bagaimanakah dengan kerja cerdas? Kerja keras dapat diartikan sebagai kerja dengan bersungguh-sungguh, dengan penuh semangat untuk menggapai tujuan dengan memaksimalkan segala daya dan potensi yang ada. Artinya, kerja keras memerlukan waktu yang lama dan energi yang luar biasa besar. Sementara, kerja cerdas berarti bekerja dengan fokus, kreatif dan inovatif. Kerja cerdas memerlukan energi yang [jauh] lebih sedikit tapi hasilnya besar; bahkan lebih besar. Anda hanya perlu “dongkrak sederhana”; belajar akan keberhasilan dan kegagalan orang-orang lain dan menemukan cara atau ide-ide baru.* Dan…, satu kunci terakhir; pastikan apa yang Anda kerjakan itu adalah dalam bidang yang Anda sukai, minati – Anda punya keahlian di bidang itu dan bermanfaat bagi sesama. Seperti yang pernah diutarakan oleh Sun Tzu: “Kenalilah dirimu [potensi, bakat, minat, keahlian, kelemahan] dan musuhmu [tantangan, ancaman, hambatan, gangguan], maka kau akan tak terkalahkan dalam seratus peperangan – sukses dan kaya!”
 
 
“Kemiskinan dan kekayaan – layaknya suami-istri – adalah pasangan. Keduanya bisa bermakna positif atau negatif; tergantung dari bagaimana kita dan cara kita memandang dan menanggapinya. Kekayaan yang ‘tidak berkah’ adalah kekayaan yang dimanfaatkan untuk menyakiti dan berbuat semena-mena terhadap orang lain. Sementara itu, kemiskinan ‘yang berkah’ adalah kemiskinan yang mampu menjadi sebuah bejana, wadah untuk ‘melejitkan’ potensi diri menjadi pribadi-pribadi yang besar lagi hebat; dengan kombinasi strategi kerja keras, kerja cerdas dan kerja ‘bernas’. Biarkan kemarahan itu tetap bersemayam di hati dan pikiran; karena kemarahan ‘sejati’ adalah kemarahan yang menjadi energi ‘pembuktian jati diri yang juga sejati’.
 
 
 
 
 
 
 Jalan terpendek menuju kemiskinan adalah kemalasan, Semakin malas, semakin cepat miskin.

Jalan terpendek menuju kekayaan adalah kerja keras.

Kerja cerdas adalah bekerja keras di bidang yang Anda sukai, dalam keahlian Anda, dan yang bermanfaat bagi sesama, menyebabkan Anda akan dikayakan dalam Arti seluas-luasnya.”

~ by Nina on December 6, 2011.

3 Responses to “Kaya atau Miskin”

  1. pencerahan yang luar biasa

  2. good article

  3. Barisan kata yang menginspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: