Kekayaan Sejati

Semua orang bekerja dengan satu tujuan pasti: mencapai suatu tingkat yang disebut kaya. Apa yang dimaksud dengan kaya? Kaya bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan hidup yang cukup, bahkan berlebih. Dengan kekayaan yang dimiliki, seseorang mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya – baik primer, sekunder maupun tersier; bahkan memberikan sebagiannya untuk orang lain yang membutuhkan bantuan.

 
Apa sajakah yang termasuk ke dalam kekayaan itu? Uang atau materi; itulah yang biasanya dipilih orang. Dengan uang atau materi, kita bisa hidup layak dan bahagia. Dengan kata lain, hidup akan menjadi sejahtera. Dengan hidup yang sejahtera, kebahagiaan mungkin bisa kita raih. Tapi, apakah hanya itu saja yang disebut kekayaan itu?
 
Kekayaan atau harta berharga itu bukan cuma berupa uang atau materi; tapi yang jauh lebih penting kekayaan dalam hati. Kekayaan hati itu bisa berupa sikap jujur, sabar, ikhlas, penyerahan total kepada Tuhan yang akan membuahkan kebijaksanaan hidup. Orang-orang yang kaya hati akan lapang jiwanya; meskipun mereka tidak mempunyai harta ataupun ‘pas-pasan’. Orang-orang seperti ini tidak terlalu berfokus pada uang atau materi atau segala hal yang menyangkut pada ‘kepentingan perut’ semata. Apapun yang dilakukannya adalah kebaikan dengan jiwa ikhlas; dari awal sampai akhir mereka melakukannya dengan gembira dan senang hati – meskipun sering gagal atau banyak hambatan. Suatu saat mereka down, marah; mereka segera ‘sembuh’ dan kembali ke niatan awal dan melanjutkan pekerjaan yang ‘tertinggal’ alias resume dengan cara, semangat dan etos yang sama baiknya – bahkan terkadang lebih baik.
 
Orang-orang yang bekerja untuk melayani demi kebaikan bersama pada hakikatnya adalah orang-orang yang bahagia; dan tentu saja kaya – kaya hati. Orang yang kaya hati akan lebih mudah ‘dikayakan’ Tuhan dengan materi. Mereka hanya perlu “meng-upload” (unggah) segala kebaikan – sekecil apapun itu – dimana saja dan kapan saja dengan kecepatan tinggi; pada gilirannya mereka akan “men-download (unduh)” balasan baiknya juga dengan kecepatan tinggi dimana saja dan kapan saja – bahkan terkadang lebih cepat dan lebih baik.
 

Saya lebih tertarik kepada hidup yang melakukan, daripada yang memiliki.

Yang kita lakukan untuk kebaikan sesama, adalah kekayaan yang sesungguhnya.”

~ by Nina on December 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: