Liburan – Rekreasi

Banyak orang berpendapat bahwa karir atau kehidupan masa depan dan rekreasi – liburan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu ‘menuntut’ kita bekerja dengan serentetan program dan target; yang satunya lagi ‘membebaskan’ kita dari serentetan program dan target tersebut. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang bisa menjalankan keduanya; bahkan mungkin tidak ada!
 
Karir dan rekreasi-liburan memang dua hal yang berbeda; tapi sebenarnya saling melengkapi. Bekerja dengan sungguh-sungguh, pada suatu saat, kita pasti akan merasakan kelelahan bahkan kejenuhan. Untuk itu, liburan diperlukan untuk ‘me-recharge‘ tenaga, pikiran dan semangat agar pekerjaan tersebut dapat dilanjutkan dengan ‘sesuatu yang baru’. Namun, keasyikan dalam ‘semangat’ liburan sering membuat kita terlena, terlupa akan program dan target mulia yang hendak kita capai. Terkadang, rasa malas pun menghinggapi ketika akan melanjutkan pekerjaan. Inilah salah satu dampak ‘negatif’ liburan!
 
Dalam karir dengan serentetan program dan target, kita sudah ‘terbiasa’ dengan jadwal atau prosedur ‘baku’; terkadang dengan batasan waktu yang dibuat ‘ketat’. Semua itu dibuat dalam sebuah perencanaan (planning) yang terukur; terkadang dibuat tanpa – lebih tepatnya kurang – didasari semangat 45 yang ‘menyala-nyala’. Sementara dalam liburan, itu tidak pernah terjadi; kita bisa melakukan apapun – segala hal yang menyenangkan alias fun – dengan planning yang dibuat dengan penuh semangat 45 yang juga sering ‘kebablasan’.
 
kita memang memerlukan liburan diantara rutinitas pekerjaan dan upaya kita menjadikan kehidupan menjadi lebih baik. Liburan yang baik adalah liburan yang direncanakan dan dilakukan – bahkan di-asses (dinilai) – dengan baik; dalam arti tidak berlebihan dan tidak ‘kenal waktu’. Liburan adalah salah satu sarana kita ‘merevitalisasi’ segala potensi diri untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang ingin dicapai. Tujuan liburan adalah rekreasi, yang akan melahirkan tubuh dan pikiran yang segar dan sehat.*
 
 
“Ada orang yang lebih bersemangat
merencanakan liburan,
daripada merencanakan karir
dan kehidupannya.
Lalu dia kembali ke pekerjaannya
dengan sindrom pulang liburan,
yaitu lesu karena aktifitas tidak terukur
selama liburan, stress karena belanja berlebihan,
dan kehilangan momentum pada pekerjaan
yang ditinggalkannya sebelum liburan.Apakah Anda merencanakan kehidupan
seperti Anda merencanakan liburan?”

~ by Nina on December 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: