Nikmatnya Ikhlas

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).

Manusia diciptakan Tuhan ke muka Bumi dan ke tengah-tengah Semesta Raya adalah sebagai khalifah atau wali-Nya. Artinya, manusia itu adalah ‘wakil’ Tuhan di Alam Semesta – dengan segala nama-Nya yang indah dan anggun ada pada diri manusia – setiap manusia. Untuk itulah, Alam Semesta Raya benar-benar ‘dirancang’ dan ‘diciptakan’ oleh Tuhan dengan segala perhitungan terbaik; segala fasilitas yang ada pun dari kualitas dan kuantitas terbaik. Semuanya untuk manusia; dan untuk ‘dibagikan’ ke seluruh makhluk hidup lainnya.
 
Namun hidup bukanlah sesuatu yang gampang. Kehidupan ini memiliki segala yang berpasang-pasangan; ada siang dan malam, ada baik dan buruk, ada suka ada duka. Semuanya adil dan punya ‘masanya’. Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang lebih baik, lebih beruntung. Semuanya punya potensi dan pilihan! Karena semuanya “sementara“…!
 
Ikhlas” adalah sebuah kata sederhana; yang sangat mudah diucapkan oleh lidah, tapi (sering) sulit untuk dipraktekkan. Inilah kata kunci untuk kehidupan yang bermakna dan nikmat yang tiada tara. “Ikhlas” berkawan erat dengan kata “sabar” dan “jujur“; ketiganya adalah senjata orang-orang sukses dan besar.
 
Sering sekali kita temui bahwa banyak orang yang dalam kehidupannya bekerja hanya untuk apa-apa yang sudah jelas-jelas akan didapatkannya; sesuai bayaran yang akan/telah diterimanya. Mereka cenderung ‘melupakan’ jiwa dan hati yang ikhlas dan sikap sabar dalam melakukan sesuatu. Pada akhirnya, kejujuran pun berangsur-angsur hilang dari hati mereka seiring lunturnya semangat untuk memberikan dan melakukan yang terbaik.
 
 
Bagi mereka yang ikhlas, sabar dan jujur, apa saja yang mereka lakukan adalah perbuatan/amal baik yang mesti dilakukan dengan sebaik mungkin. Bagi mereka, melakukan dan memberikan yang terbaik adalah sebuah keniscayaan; itulah target mereka yang membuat mereka menjadi punya ‘nilai tersendiri’ di pandangan manusia-manusia lain. Mereka adalah kelompok ‘pembeda’. Bagi mereka pula, melebihkan pekerjaan atau waktu, tenaga, pikiran bahkan uang adalah suatu nikmat. Dan setelahnya, wajah-wajah mereka akan berseri-seri seperti bulan purnama.
 
 
“Berbuat dan memberi yang lebih dan terbaik daripada yang ‘seharusnya’ – secara kasat mata – tampaknya ‘merugikan’; setidaknya sedikit lebay. Namun dibalik itu tidaklah demikian; orang-orang yang ikhlas, jujur dan sabar itu sedang ‘menabung’ untuk sesuatu ‘terbaik’ yang akan mereka dapatkan pada suatu hari nanti – mereka akan ‘naik sabuk’ atau naik ke kelas yang lebih tinggi dengan tanggung jawab yang lebih tinggi pula. Mereka adalah pengguna utama ‘jalur penghebatan kehidupan’; pelejit diri – Pegasus. Mereka adalah orang-orang besar – kepada merekalah ‘tugas dari langit’ hanya diserahkan sepenuhnya. Jadi, apa yang Anda pilih? Your choice will make you the thing you’ve chosen!”
 
 
 

Nikmatnya Ikhlas

 
“Orang-orang yang sibuk
melebihkan pekerjaan di atas bayarannya,
akan lebih berhasil daripada mereka
yang bekerja hanya sesuai dengan bayarannya.
Ada orang yang demikian hitung-hitungan
mengenai kesediaannya untuk bekerja,
sampai dihitung kembali oleh kehidupan
dengan sangat tegas.

Orang yang bekerjanya hanya untuk pas
dengan bayaran, hidupnya akan dibuat pas-pasan.

Yang melebihkan, akan dilebihkan.”

~ by Nina on December 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: