Tua dan Dewasa

Tua Adalah Pasti Tapi Dewasa Adalah Pilihan

 “Emang kedewasaan seseorang itu gak bisa diukur dari umur, tapi dari pemikiran dan sikap” dan perlu digarisbawahi, semua yg saya tulis tidak menutup kemungkinan sang penulis juga masih tidak dewasa. dan kita (anak muda) sedang menuju ke proses dewasa tersebut.
 
Tua adalah pasti tapi Dewasa adalah pilihan“. Ya menjadi dewasa adalah pilihan yang musti kita ambil dalam menjalani hidup ini, kerena dengannya kehidupan ini menjadi lebih terwarnai dan lebih ‘berasa’. jikalau saja kedewasaan tidak ada tak bisa dibayangkan bagaimana keadaan dunia ini, mungkin sebentar-bentar perang, sebentar-bentar ngambek, atau sebentar-bentar angot-angotan menjalankan aktivitasnya. Maka dari itu tulisan ini ada, yuk sama-sama manakar tingkat kedewasaan kita. 
 
Untuk mengukur tingkat kedewasaan kita, kita bisa melihat dari beberapa hal berikut ini, mungkin dan pasti tidak komplit, tàpi akan membantu kita memudahkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kedewasaan kita.

  1. Sikap, Berikut ini adalah sikap-sikap yang menunjukkan kedewasaan seseorang, sopan, menghargai dan menghormati orang lain, tidak memandang rendah orang lain, ada kepedulian sosial, selalu mengutamakan dialog dalam menyelesaikan persoalan dan beberapa sikap positif lainnya, prinsipnya, semakin tinggi tingkat positifitas sikap kita, maka semakin tinggi tingkat kedewasaan kita. 
  2. Diam aktif, Kemampuan diri dalam berkomentar. orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Seorang anak kecil pasti apa yang ia lihat ia komentari baik itu baik atau buruk. Tetapi orang yang dewasa ia bisa mengendalikan lisannya dalam mengomentari sesuatu, singkatnya difikirkan (bertafakkur) dahulu sebelum mengomentari, apakah bermanfaat, apakah menyakiti ataukah tidak.
  3. Sifat lain sekali dengan sikap, sikap bisa kita pelajari, tapi sifat, susah untuk di ubah, hanya jika kita bisa mencapai alam pikir yang dewasa kita bisa mengubah sifat kita, namun demikian, bimbingan rohani dan pengetahuan akan banyak membantu kita mengendalikan sifat kita, berikut ini sedikit contoh sifat yang menunjukkan kedewasaan pola pikir seorang manusia, tidak egois, sabar, penuh pengertian, menyenangkan, ramah, bijak, jujur tentu saja, dan beberapa sifat negatif lainnya.
  4. Cara Bicara
    Cara bicara yang teratur, terarah, tertata menujukkan kedewasaan seseorang, tapi TIDAK MUTLAK, karena banyak salesman yang bicaranya minta ampun bagusnya tapi kelakuan dan sikapnya jauh dari apa yang di katakannya, isi dan topik pembicaraan lebih tepat di jadikan ukuran, dan bagaimana cara penyampaiannya. Dalam dunia militer orang akan lebih cepat mencapai tingkat kedewasaan itu, terutama dalam pendidikan Perwira. 
  5. Konsekwensi
    Hal terakhir ini kunci utama mengukur tingkat kedewasaan seorang manusia, manusia dewasa selalu bertanggung jawab dengan apa yang di katakan dan di perbuatnya, baik atau buruk, bahkan meski nyawa taruhannya. Sikap pengecut dan suka melarikan diri dari persoalan menunjukkan rendahnya tingkat kehidupan manusia, atau bisa dikatakan tidak gentle. Selebihnya, Anda harus mencari tahu sendiri, karena saya juga harus melihat diri sendiri untuk mencari tahu apakah saya sudah ‘cukup’ dewasa untuk mengatakan hal ini.
  6. Empati, Dapat meraba atau merasakan perasaan orang lain. Seorang anak kecil yang sedang bermain mainan miliknya lalu datang anak kecil yang lain dengan sendirinya ia akan menghindar agar mainannya tidak juga dimainkan oleh kawannya tersebut. seorang yang dapat ber empati InsyaAllah akan semakin bijak. Tidak akan bijaksana orang yang hanya memikiran perasaan dirinya sendiri.
  7. Wara’ dalam bertindak, Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak sembarangan memilih kata, mengambil keputusan, dan mengambil sikap. karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh. The last but not the least.
  8. Sabar, Dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap dan stabil. Sahabat seseorang yang dewasa benar – benar memiliki sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab. Karena sabar juga dalam mengemban amanah jika ia tidak sabar dalam amanah, maka dengan sendirinya ia tidak bertanggungjawab.

“Dewasa” sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Kata yang mampu menyejukkan hati pendengarnya, mampu membuat mata betah berlama-lama terpaut pada penyandangnya. Dewasa selalu diidamkan oleh khalayak, terutama anak-anak. Apakah Anda termasuk salah satu orang yang mengidamkan kedewasaan? Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut bisa dijadikan salah satu indikator tingkat kedewasaan Anda.

Sampai saat ini, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya perasaan, sikap, cara pandang, orientasi, usia (hal ini menyangkut aspek jasadiah) dan perilaku. Oleh karena itu, secara umum kedewasaan dapat dilihat dari bebrapa aspek, di antaranya: 

  1. Dewasa secara fisik, indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah telah berfungsi secara optimal, atau secara singkat ketika seseorang telah mencapai baligh.
  2. Dewasa secara psikologis, indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
  3. Dewasa secara sosial-ekonomi, yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Indikator Tidak Dewasa
Selain mengetahui indikator kedewasaan, maka perlu pula diketahui beberapa indikator ketidakdewasaan, di antaranya:

  1. Emosional. Salah satu hal yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak adalah dalam berprilaku. Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak, kemudian akhirnya merasakan. Sementara orang dewasa, ia akan berpikir terlebih dahulu, bertindak, kemudian baru akhirnya ia akan merasakan. Artinya, orang yang dewasa akan bersikap tenang, penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan, ia tidak akan terjebak oleh emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan semata. Tidak akan ditemukan orang dewasa yang emosinya meledak-ledak tanpa terkontrol. Bagaimana dengan Anda?
  2. Egois. Egois merupakan ciri dari seseorang yang belum dewasa. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang belum dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois, tentu saja ia tidak menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois seseorang, semakin jauh ia dari pencapaian kedewasaan. 
  3. Tidak konsisten. Dasar dari seseorang yang dewasa adalah konsisten. Sikap sebaliknya adalah indikator seseorang belum dewasa, artinya ketika seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang merusak komitmen sebelumnya, maka orang tersebut belum dapat digolongkan ke dalam orang yang dewasa. 
  4. Tidak tepat janji. Kedewasaan seseorang juga dapat diukur dari perkataannya. Bila perkataannya dapat dipegang dan dipercaya, maka kedewasaannya teruji. Akan tetapi jika perkataan yang dikeluarkannya hanya sekedar kata tanpa bukti nyata, bahkan dengan mudah ia ingkari maka itu merupakan ciri ketidakdewasaan seseorang. 
  5. Tidak bertanggungjawab. Sebagai hamba, manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dilakukannya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Rasa tanggung jawab ini hanya ada dalam pikiran orang dewasa. Ketika didapati ada orang yang bingung dengan tanggungjawabnya dan sering mencari kambing hitam untuk melimpahkan tanggung jawab ini, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan telah dewasa. 
  6. Suka bersembunyi. Setiap manusia tentu akan akan dihadapkan pada masalah dalam hidupnya, masalah-masalah yang datang tersebut tidak jarang akan muncul dalam bentuk yang sangat sulit, sehingga mencapai tahap yang sangat kritis. Pada saat kritis, saat itu pulalah kedewasaan seseorang diuji. Orang yang belum dewasa akan memilih lari dari masalah tersebut dan bersembunyi, sementara orang yang dewasa akan mengahadapi masalah tersebut seberat apapun ia merasakannya. 
  7. Hanya merespon ketika ada paksaan. Orang yang belum dewasa adalah orang yang merespon hanya ketika ada paksaan atau tekanan. Ketika ia mendapatkan seruan yang sifatnya ajakan saja, jarang ia akan meresponnya. Ia akan merespon ketika ada imbalan yang akan diberikan kepadanya, baik itu berupa hadiah jika merespon atau sanksi jika tidak melaksanakannya.

“Tua adalah sebuah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan” (Anonim)
Sumber

~ by Nina on December 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: