Cinta tidak berlogika

“Cinta adalah misteri…. Cinta adalah karunia…. Cinta adalah setumpuk perasaan yang membuatmu menjadi ‘tampil beda dari biasanya’…. Cinta memberimu segalanya – semangat untuk bertahan hidup, inspirasi kreativitas tingkat tinggi bahkan mampu memperkaya hatimu…. Namun, cinta bisa pula membutakan; membutakan apapun, bahkan mata hatimu yang terdalam sang penyuara kebenaran sejati…. Pasangkan dia dengan akal sehatmu…, sehingga cinta yang kau miliki akan sempurna membahagiakanmu… SELAMANYA….”

Secara kasat mata, cinta dan logika itu emang ‘musuhan’….(dan lumrah dialami oleh mereka yang belum memiliki ‘kematangan’ dalam hidup; contohnya remaja, terutama yang baru saja ‘menginjak usia belasan tahun’)
Tapi bagi orang yang punya planning alias visi (dan misi) yang jauh ke depan, cinta dan logika adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan….

“Cinta” menerangi hati, jalan hidup serta sebagai anugerah Sang Pencipta; “Logika” juga menjadi pelita hati, penerang jalan, penentu mana yang benar dan mana yang salah (disinilah letak perbedaan sesungguhnya)…
Contoh: jika Anda ‘jatuh cinta’ pada seorang (maaf) pramuria (dan begitu pula sebaliknya); Anda satu trilyun persen memang tidak salah karena perasaan cinta itu adalah anugerah – kata Wong Kulon “Love is blind (Cinta itu buta, Man)”, tapi jika Anda menggunakan logika maka ceritanya akan menjadi ‘lain’ karena Anda akan bisa memutuskan apakah Anda bersedia menikahinya atau tidak – jika dia tetap seperti keadaannya (dan untuk seterusnya seperti itu) sementara Anda ingin (baca: ngotot) menikahinya, apakah Anda mau mempunyai ‘keturunan’ dari laki-laki lain yang jelas-jelas BUKAN suaminya dan akan menjadi ‘aib tersendiri’ bagi Anda? Sebaliknya, jika dia ikhlas bertobat dan Anda mau menerima keadaannya plus ‘masa lalunya’ dengan apa adanya, apakah Anda akan konsisten dalam membimbingnya di jalan yang benar? (Ingat: Laki-laki adalah pemimpin dan penentu baik-buruknya garis keturunan karena menurut ilmu genetika, laki-laki ‘satu-satunya makhluk’ yang memiliki kromosom X dan Y – sementara perempuan hanya memiliki kromosom X).

Dengan kata lain, “cinta” adalah Inspirasi untuk berbuat sementara “logika” adalah Decision Maker-nya.

~ by Nina on December 14, 2011.

2 Responses to “Cinta tidak berlogika”

  1. tp mengandalkan logika pun amat sangat terbatas, toh seberapa hebat sih akal kita.. gak bisa menembus masa depan yg masih gaib.. sekarang dia baik2, siapa yg tahu nanti? skr dia mapan.. siapa yg tau besok jatuh miskin? akal kita tentu berusaha dgn logika, tetapi hati sepenuhnya mengandalkan Tuhan dlm menentukan pilihan..๐Ÿ˜€

    • Betul kata Mas Indra, logika sangat terbatas …Cinta tdk berlogika , tp Cinta plus Logika jauh lebih baik, walau sepenuhnya masih/ada ditangan Yang Kuasa. Cinta plus Logika yang ujungnya suatu penderitaan..mungkin itu yang disebut takdir yang diterima dgn ihklas, dan takutnya Cinta tanpa Logika yang berujung penderitaan dapat mempersalahkan dirinya atau lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: