Derita Cinta

 Mungkin tidak ada cerita
anak manusia yang keindahannya
menembus abad-abad sejarah
seperti cerita mengenai cinta.

Jatuh cinta itu indah
tapi kenikmatannya tak bisa
menandingi kenikmatan dari derita cinta.

Hati tak pernah tersayat lebih dalam,
air mata tak pernah terperas lebih kering,
dan sukma tak pernah lebih dekat ke akhirat,
kecuali dalam kepiluan karena cinta.

Derita cinta, pilunya merasuk sukma.

Rasa cinta pasti ada
Pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini
Tetap suci dan abadi
Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa

Perasaan insan sama
Ingin nyinta dan dicinta
Bukan ciptaan manusia
Tapi takdir yang kuasa
Janganlah engkau mungkiri
Segala yang Tuhan beri

Jika orang ditanya,  Pernahkah Anda merasakan cinta dan jatuh cinta?  Jawabannya pasti: PERNAH, bahkan ‘berkali-kali’. Cinta memang indah, bahkan sangat indah – bagi yang merasakannya. Cinta laksana air surgawi yang menetes membasahi jiwa yang sedang kering-kerontang akan kasih dan sayang. Cinta menumbuhsuburkankan semangat hidup dan ‘militansi tiga serangkai’ – hati, pikiran dan tindakan. Cinta menghadirkan gelak tawa bahagia di sebuah gubuk reot maupun istana. Dan, cinta diciptakan dan diperuntukkan bagi seluruh makhluk bernyawa.

Cinta adalah sesuatu yang suci; pada awalnya dan pada akhirnya. Dengan cinta, segalanya bisa menjadi sangat mudah; segalanya bisa menjadi mungkin; dan segalanya bisa mengalir lancar. Dalam kata cinta, tersembunyi banyak makna kehidupan pada keajaiban penciptaan semesta raya. Cinta juga berarti ‘pertemuan hati’; sikap penerimaan total masing-masing tanpa mengharuskan sikap saling memiliki. Berbicara cinta berarti berbicara tentang kejujuran; kejujuran hati.

Sisi gelap cinta adalah bahwa dia bisa sangat menyayat, menghunjam sampai ke jantung hati. Sukma terasa ‘terbakar’ lalu lepas bebas meninggalkan raga yang terhuyung-huyung; kemudian jatuh. Air mata yang jatuh membasahi bumi bisa kering melebihi ganasnya Gurun Sahara; terlihat seolah-olah tanpa harapan dan ‘kehidupan’. Semua rasa berbaur menjadi satu; semangat dan ‘milintasi tiga serangkai’ mendadak layu – bahkan sebelum ‘berkembang’. Kehidupan seolah berhenti; setidaknya terasa hampa karena separuh jiwa berlalu pergi bersama cinta yang terbang entah kemana. Semuanya tersendat, hang!

Namun, cinta pada suatu saat pasti akan kembali lagi. Dia akan kembali; entah sang penerima siap atau tidak! Cepat atau lambat! Dan seperti biasanya, dia datang membawa harapan, senyum dan semangat baru. Siapa yang mensyukuri, ikhlas, berpikir positif dan mampu menarik hikmah dari ‘cinta yang berkhianat’ akan merasakan kenikmatan dan kedamaian yang jauh lebih besar pada saat cinta itu kembali. Mentari kehidupannya kembali bersinar menerangi alamnya, penerang jalan hidupnya. Kehidupannya telah kembali!

 

~ by Nina on January 2, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: