Kekuatan Kata-Kata

Kekuatan Kata-Kata

Buku ini secara meyakinkan dan ilmiah telah menyambungkan missing link tentang bagaimana doa, pikiran, dan kata-kata positif berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang. doa dan kata-kata positif dibuktikan secara ilmiah oleh Masaru Emoto, yaitu dengan membuat kristal air menjadi bagus sehingga manusia yang terdiri atas 70 % air menjadi buku wajib bagi orang yang ingin dahsyat dan sehat”. [Tung Desem Waringin, The Most Powerful People and Idea In Business 2005]
 
Air bersifat sensitif. ia akan merespon setiap kata yang kita ucapkan. apabila kita mengirimkan “fluktuasi gelombang” yang baik kepada air dengan mengatakan kata-kata positif, air akan mempersembahkan kristal-kristal yang indah. doa juga mengeluarkan energi yang dapat mengubah kualitas air. dengan memberikan doa ke air, berarti kita mengirimkan “fluktuasi gelombang” ke air dan air kemudian menggunakan kekuatannya untuk menjawab doa-doa ini. 
 
Perlu keahlian untuk melakukan hal ini–berdoa hingga mengubah kualitas air. kita dapat mengirim “fluktuasi gelombang” yang lebih kuat jika kita mengucapkan doa dalam bentuk past tense (sudah terjadi) daripada dalam bentuk future tense(belum terjadi). sebagai contoh: seorang anak yang ibunya menderita penyakit kanker mengucapkan doa ke air agar ibunya sembuh: “saya harap penyakit kanker ibu segera sembuh”. saya tidak bermaksud mengatakan bahwa doa tersebut buruk. akan tetapi, doa tersebut akan lebih efektif jika menggunakan kata-kata: “penyakit kanker ibu saya sudah sembuh”. bandingkan kalimat “segera sembuh” dan kalimat “sudah sembuh” air akan mengkomunikasikan gelombang fluktuasinya untuk memberi kekuatan bagi yang meminum air tersebut.
 
Seorang Masaru Emoto dengan pemikiran yang super, keren dan jenius sekali. kali ini saya akan membahas pada bab “Cinta dan Terima Kasih”. Cinta bersifat absolut, sedangkan terima kasih bersifat relatif. absolut adalah energi aktif, sedangkan relatif merupakan energi pasif.

Untuk dapat memberi, kita butuh orang yang menerima. betapapun kerasnya usaha anda untuk memberikan cinta, anda tidak akan berhasil melakukannya tanpa adanya seorang penerima. ini sudah aturan alam. begitu juga dengan hubungan cinta antara pria dan wanita. semua usaha memberi akan membutuhkan pihak penerima.

Bukan hanya cinta. bukan hanya terima kasih. akan tetapi dengan menggabungkan keduanya maka hasil kerja alam akan terlihat jelas. pikiran dan tubuh kita dipengaruhi oleh gelombang intrinsik benda lain yang kita gunakan untuk membentuk resonansi. dalam hubungan antar-manusia, kerapkali kita mengatakan tidak cocok dengan seseorang. sebenarnya, hal ini ada kaitannya dengan gelombang dan resonansi. sebagai contoh: tentang penggunaan “gelombang fluktuasi” dalam hubungan antar manusia adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang bertemu lalu saling jatuh cinta. ketika mereka bertemu, “gelombang fluktuasi” mereka pun bertemu sehingga terbentuklah resonansi selaras.

Betapa gampangnya lidah ini mengucapkan kata-kata. Kata-kata yang penuh makna, penuh hikmah, nasehat, canda, cerita, atau sekedar basa-basi belaka. Bahkan tak sedikit lidah yang begitu lancar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, menceritakan aib sendiri maupun orang lain, bergunjing, berghibah, mengejek, atau bahkan memaki. Tak salah bila dikatakan bahwa lidah itu ibarat sebuah pisau, yang dapat digunakan sebagai peralatan kerja, atau dapat juga dipakai sebagai senjata untuk menakuti orang lain, bahkan membunuh.

Dari begitu banyak kata-kata yang kita ucapkan, sangat sedikit bagian yang dapat kita ingat. Bahkan banyak orang yang tidak dapat mengulang kata-katanya sendiri yang baru saja diiucapkannya beberapa detik yang lalu. Sangat banyak dari kita yang tidak ingat lagi apa yang kita ucapkan pada teman kita saat berjumpa di jalan, atau pada saudara kita di rumah, dan tak jarang kita lupa apa yang telah kita sampaikan pada orang tua kita. Maka, sangat baik bagi kita untuk selalu menjaga agar kata-kata yang keluar dari lisan kita adalah kata-kata yang baik.

Kadang, kita tak tau canda yang kita lakukan, yang membuat kita tertawa, ternyata terasa menyakitkan bagi orang lain. Atau, cerita yang kita sampaikan dengan menggebu-gebu, ternyata tanpa terasa telah menyinggung perasaan orang lain. Apatah lagi, pabila perkataan yang menyakitkan dan menyinggung perasaan itu memang kita lakukan dengan sengaja. Na’udzu billahi min dzalik.

Sampai-sampai, begitu besarnya pengaruh lisan kita, hingga ada pepatah yang mengatakan “mulutmu harimau kamu” atau “lidah itu lebih tajam daripada sebilah pedang”. Jika kita tak pandai menjaga lisan, maka lisan kitalah yang akan membawa kita pada keburukan.

Betapa pentingnya bagi kita untuk selalu menjaga lisan diungkapkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Karenanya, ungkapan yang mengatakan diam itu emas adalah selaras dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. di atas. Yaitu, diam yang dilakukan karena menjaga lisan agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak baik. Namun, mengucapkan kata-kata yang baik jauh lebih berharga daripada diam, walaupun diam itu emas.

[Diam Adalah Emas] Saat anda tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan anda harus diam adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan. Bagaimana anda bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan pandangan anda.

Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya. Sekali anda membuka mulut, anda akan temui betapa banyak kalimat-kalimat meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-kata itu tidak anda kehendaki. Seringkali orang tergelincir oleh kerikil kecil, bukan batu besar. Butiran mutiara indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya.

Inilah ibarat, kekuatan anda untuk diam. Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diam para bijak. Untuk itu anda perlu berusaha membukanya sekuat tenaga. Bukankah pepatah mengatakan, “diam adalah emas”

~ by Nina on January 2, 2012.

One Response to “Kekuatan Kata-Kata”

  1. nice words, sista..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: