Ada Apa Dengan Cinta

 
Ada apa dengan (cinta) diriku, malam ini begitu romantisnya. selalu kau hadir dalam setiap jejak langkahku. membuat dan dibuat. menggapai dan digapai indah dalam sela-sela antar ingatanku. dalam ruas ini. sebut dan menyebut. pernah menggapai dan memeluk tapi kau itu bagai bijih besi yang panas. mendekati saja hati ini  sudah melepuh . kau begitu indah dan dan  dan hampir sempurna ….
Wahai TUHAN-ku yang Maha Agung dan Maha Besar. aku menyembutnya dalam doa dan hati. KAU yang selalu memberiku nikmat mencintai dan menyayangi. KAU yang selalu hadir dalam setiap semangat dan sedihku. Terimakasih ya !! Tuhan.

Lari menjelang senja bersemayam || Apakah kau mau menjemput? || Kurasa tidak! karena aku sedang menikmati sisa kecantikan lembayung senja || menggurat tak bernyawa, menghias bagai tenggelam || Senja diufuk barat selalu menggurat akan sebuah makna indah…

Tiap detik malam ini semakin membuatku sadar terhadap apa yang seharusnya kusadari. Menapikan jejakku yang hanya serpihan kecil di tengah padang ilalang. Terlalu mikro dibanding hegemoni semesta, sebuah tirani yang selama ini justru ter-tirani.
 
Ujung sejauh memandang  ini bukan ujung segalanya. Tapi sejauh mata memandang hanya tampak oasis ujung yang juga sedang mencari ujung lainnya. Serpihan titik terang di kubah langit tampak anggun menjadi koreografi atap menghias langit. Mereka berkolaborasi menertawakan kita yang terlalu berfantasi hingga terlena dalam fana. Terlalu lemah di hadapan ombak yang tak pernah berhenti berlari, terus bergulung-gulung, dan saling berkejaran. Meskipun pada akhirnya pecah dan terdispersi di bibir pantai. Atau terhempas karang terjal yang secara de facto terjal yang menghadang dengan frontal.
 
Kehadiranku disini bukan realisasi dari amorfati. Justru sebaliknya. Mungkin absolut 180 derajat berbeda. Aku masih ingin berdiri di hamparan pasir putih dan mewujudkan mimpi. Aku masih ingin visualku melihat saat bahagia yang ingin kucapai. Dan aku masih ingin tertawa bersama mereka yang kucintai.
 
Perhatikan sisi timur. Inikah filasafat alam yang sebenarnya selalu tersaji di hadapan kita namun sering terabaikan? Cahaya, yang hampir selalu mendapatkan konotasi positif, justru datang dari bawah. Meskipun sebelumnya gelap, ketika dari sudut pandang kita sudut elevasinya semakin besar, ruang kita akan semakin terang. Sudut elevasi? Ya, sudut antara sebuah garis dengan proyeksi tegak lurusnya pada sudut tertentu dengan suatu sumbu sebagai acuan. Ternyata seperti itu. Rasanya aku sudah mendapatkan konklusi absurd namun masif. Jadi aku harus lebih membuat usaha untuk membuat proyeksi itu. Aku harus menjemput cahaya!!! 
 
Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku || Ku lari ke pantai kemudian teriakku || Sepi, sepi dan sendiri aku benci || Ingin bingar aku mau di pasar || Bosan aku dengan penat || Enyah saja kau pekat || Seperti berjelaga jika ku sendiri.
 
“Mengapa aku begitu risau dengan apa yang telah Engkau tetapkan. Engkau yang menghidupkan, sudah semestinya Engkau pula yang menghidupi. Dan inilah bukti, ketika karunia Engkau hantarkan dari langit ke bumi, para malaikat-Mu membawa dosa-dosaku ke singgasana-Mu. Pernahkah aku menggetarkan singgasana-Mu dengan tangis tulusku?
Ya Rabbi, Engkau tahu pasti apa yang ada di dalam hati. Namun, aku tak tahu pasti apa yang sedang aku alami. Engkau Maha memelihara dan menetapkan segalanya, setiap detik apa yang aku dapati di bumi-Mu ini. Bahkan sebelum aku terwujud seperti ini.
 
Khalik, ….perbaiki keadaanku, aku membutuhkan-Mu.””Sering kuhasratkan sesuatu, namun Kau telah memilihkannya untukku. Pilihan-Mu senantiasa lebih baik, dan Kau teramat sayang kepadaku. Kutekadkan diri untuk tak memedulikan kata hati. Kecuali untuk mengagungkan dan memuliakan-Mu. Dan ku tekadkan diri agar Kau tak melihatku menjamah dan melakukan yang Kau larang. Karena dalam hatiku, Kau teramat Agung.”
Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Dia memalingkan darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kau hasratkan tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui.”
Karena kau tahu bahwa Allah yang mengujimu, kau merasa ringan menghadapi ujian. Dialah yang memberikan pilihan baik untukmu. Seluruh ketentuannya mengarah kepadamu.”
 
Sumber : Catatan hati… entah siapa yang empunya..mohon maaf..

~ by Nina on July 22, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: