Benih Kehidupan

 
 
 
Pernahkah merasakan sesuatu hal yang membuat kalian menitikkan air mata secara tiba-tiba ??, lalu mundur beberapa waktu/masa ke belakang, melihat segala sesuatu merupakan hal yang amat luar biasa adanya, dan terhenti kepada satu hal… di satu titik… merasakan keagungan… ke-Maha-an dzat yang tak terlihat… dan keberadaan akan dzat tersebut amatlah nyata dan dekat namun tak tersentuh

Entah ketika menyendiri, ketika berada dalam lalu lalang orang-orang, ketika ternasihati oleh seseorang, atau bahkan ketika melihat seekor semut berjalan vertikal di tembok lantas kita bermonolog kepadanya, “apa kabar semut? betapa Tuhan juga memikirkan akan keberadaanmu di sini.” 

Di satu titik itulah—kata orang bilang—cahaya Tuhan bertajalli (menetap) dalam hati. Dzat yang tak terlihat, tak tersentuh itu mendekat ke dalam diri, sangat dekat. 
//

 
Aku seakan-akan ditelanjangi—atau memang sedang bertelanjang diri ketika satu titik itu hinggap hanya beberapa detik dalam diri. 
 
Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikian dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampui batas apa yang mereka kerjakan.” Yunus ayat 12
 
Dan apabila manusia ditimpa bencana, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya; tetapi apabila Dia memberikan nikmat kepadanya, dia lupa (akan bencana) yang pernah dia berdoa kepada Allah sebelum itu,” Az-Zumar ayat 8.
 
Maka apabila manusia ditimpa bencana, dia menyeru Kami; kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya, dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Az-Zumar ayat 49.
 
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka, maka dia banyak berdoa.” Al-Fussilat ayat 51.
 
Satu titik yang sangat aku rindu. Satu titik yang membuat kelenjar air mata bekerja secara istimewa. Satu titik yang membuat aku tersadar ada hal yang lebih besar. Satu titik yang begitu cepat menguap. Satu titik yang meninggalkan tubuh bergetar hingga aku tak sanggup berucap. Satu titik yang keberadaannya harus aku perbaiki. Satu titik yang aku harap dapat menutupi bisikan jahat tuk kembali sesat. Satu titik yang mendamba titik-titik lain agar tercipta garis tanpa jeda.
 
Tuhan maafkan aku, tapi aku rindu satu titik itu. 
 
“Dalam diamnya ulat,“ Bapakku memulai kisahnya, “ulat tersebut mencurahkan isi hatinya kepada Tuhannya.” 
 
“Ya Tuhan, kenapa Aku diciptakan seperti ini. Jelek dan menjijikkan. Aku melihat kupu-kupu itu dengan riangnya hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Makananku hanya dedaunan, sedangkan kupu-kupu itu madu dari berbagai jenis bunga yang sedap dipandang. Aku ingin seperti kupu-kupu itu Ya Tuhan”. Sebenarnya cerita yang dikisahkan oleh Bapakku sore itu lebih apik dibandingkan apa yang sedang aku tulis sekarang, Beliau sangat atraktif dalam menceritakan kisah itu. Matanya berkedip-kedip mendongak keatas seakan-akan Beliau menjadi ulat malang itu. Tingkah polah Bapakku menjadikan kami terpingkal-pingkal. Apalagi Ibuku yang ketika itu duduk disamping Bapakku dimeja makan. Aku suka jika melihat Ibuku tertawa terpingkal-pingkal. 
 
Dilain masa.., Bapakku menceritakan kembali kisah ulat malang itu. “Wahai ulat, jika kamu sungguh-sungguh ingin merasakan nikmat yang dirasakan oleh kupu-kupu itu. Kamu harus bersabar dan berpuasalah selama 21 hari. Bersikap tenang dalam sabarmu. Jernihkan pikiranmu dari apa-apa yang kamu lihat dari suksesnya kupu-kupu itu. Bersungguh-sungguhlah dalam ikhtiarmu itu. Apakah kamu sanggup menjalankan perintah-Ku itu?” 
 
“Sanggup Tuhan, kapan Aku harus memulainya?” Tanya sang ulat malang kepada Tuhannya. “Lebih cepat memulainya, lebih cepat pula kesuksesan itu kamu dapatkan.” Lantas ulat tersebut mengumpulkan tenaga dengan memakan dedaunan agar ia tenang dalam puasanya, begitu kata Bapakku. 
 
“Lalu?” tanyaku akan kelanjutan perjuangan ulat malang itu kepada Bapakku. “Lalu, setelah 21 hari dalam perjuangannya. Ulat itu bermetamorfosa menjadi bentuk lain. Bentuk yang ulat idam-idamkan sedari dulu. Bentuk yang tidak menjijikkan lagi. Sayapnya lebar, terpola hiasan yang sangat luar biasa, bercorak beranekaragam warna. Sungutnya memanjang, melengkung diujungnya. Hitam namun sedap dipandang. Kemudian ulat itu mengadu kepada Tuhannya lagi.” Lanjut Bapakku mengisahkan perjuangan ulat malang itu.
 
“Tuhan, Aku telah berpuasa 21 hari. Menanggalkan makan. Bersusah payah untuk keluar. Menenangkan pikiran. Berjuang dalam kesabaran. Lantas kenapa aku begitu lemah sekarang? Tak kudapati aku bisa terbang seperti kupu-kupu yang aku idam-idamkan?” Tanya ulat itu kepada Tuhannya. 
 
“Bersabarlah dengan ekstra! Latihlah sayapmu itu. Kibaskan hingga mengering. Bersabarlah dalam perjuanganmu wahai ulat!”. Setelah dua jam berlatih, ulat malang itu menikmati sayapnya yang telah mengering, ia kibaskan ke atas dan ke bawah. Ia rasakan kakinya tak lagi menyentuh ranting. Sekarang ia bisa menukik semaunya. Hinggap ke bunga-bunga sesukanya. Menghisap madu yang begitu manisnya. Namun ulat malang itu tak dapat menghindari takdirnya. Dalam kurun waktu kurang lebih 14-24 hari kematian ia dapati. Bahkan kematian begitu cepat datang ketika sang predator datang.
 
Kupu-kupu yang dulu ia lihat hanya dari segi keindahan, sekarang ia nikmati dalam perjuangan. Ia harus berbagi lahan untuk mendapatkan madu, menghindari tangkapan predator, hingga meliuk menyelamatkan diri dari jaring anak-anak yang menangkapnya sebagai permainan. Begitulah Bapakku mengkisahkan perjuangan ulat malang itu. Yang sekarang ia dapati hanyalah kematian dalam kepompongnya. Ia sekarang telah terpetik dari semedinya di daun jeruk kebun samping rumah kami. Ia sekarang didalam genggaman Ibuku dengan lebih malang lagi. Ia sekarang berdiam dalam kesabaran menunggu ayam mematok selimut kepompong perjuangannya.
 
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Al-Imran 190-191)
 
Bapakkulah Harun Yahyanya rumah kami. Beliau mengatakan bahwa ayatullah tak sekedar dalam jilidan 144 surah. Lebih dari itu, ayatullah terbentang tak terhingga dialam semesta ini. Dikehidupanmu, dikehidupan orang lain, di setiap benda yang kamu lihat, di setiap debu yang kamu tapaki. Ayatullah bagaikan sajadah terbentang maha luas. Ayat-ayat Kauliyah berada dimana-mana menjadikan
Benih Kehidupan

~ by Nina on August 8, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: