Dokter vs Hakim

Hakim vs Dokter
Pemberitaan di Media TV perihal Putusan MA atas kasasi Jaksa Penuntut pada kasus Dr Ayu akhir2 ini sangat marak.Pasalnya Hampir semua berita mendukung Putusan tersebut dan mempersalahkan Dr Ayu dan Kawannya. dan terlebih lagi keputusan tersebut telah mengoyak-ngoyak profesi dokter. Layaknya Acara Silet, mengupas hal2 yang dianggap tabu menjadi layak diperbincangkan.
Begitu juga TV one Minggu, 1 Desember 2013 dalam acaranya Damai Indonesiaku Pk 14.00 Wib berjudul Tanggung Jawab Profesi dalam Islam.
Dalam Acara tersebut , tidak terlihat relefansi Judul acara dengan isi / dialog yang dihadiri oleh Masyarakat Muslim . Katanya menurut Agung sipembawa acara mengatakan bahwa acara ini adalah “Forum Saling menasehati”. Tapi kenyataannya malah justru sangat mendeskriditkan profesi dokter dengan mengambil contoh Kasus yang dialami oleh Dr Ayu. Yang ironisnya lagi bahwa Narasumbernya yang katanya seorang pakar Psikologi Hukum yaitu “Reza Indragiri Amriel” telah menambah beban psikologis bagi Masyarakat umumnya dan Profesi dokter khususnya.
Dalam Acara tersebut sangat banyak kata2/dialog yang sangat kontrofersi antara lain:
Dikatakan Dokter dalam sumpahnya diawali “DEMI ALLAH” sedangkan para Hakim dalam mengambil keputusannya bersumpah “DEMI KEADILAN YANG BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”,dpl yang terahir ini bersumpah kepada KEADILAN. Sebagai ummat Muslim, saya tidak dibenarkan bersumpah selain “DEMI ALLAH”, sebagai pakar psikologi hukum dan seorang Muslim, seharusnya si Reza mengomentari dua kalimat sumpah yang sangat berbeda maknanya tersebut,
Dialog selanjutnya si Reza maksudkan ” tidak ada Dokter yang kebal hukum, kalau tidak mau dihukum jangan jadi dokter” dpl kalau jadi dokter maka siap-siaplah dihukum…begitulah kira2 katanya. Tidak sepatutnya si Reza berkata seperti itu, kata2 yang hanya biasanya diucapkan oleh seorang kontrofersial..dan mendekati propokator. Lagi pula si Reza memberikan contoh2 dengan membandingkan perilaku dokter Australia , pemikiran yang biasanya dilakukan secara sangat sederhana Membandingkan Hitam dengan Putih , Baik dengan Buruk, Pahlawan dan Penjahat, Cara befikiran seperti ini menambah kekalutan persepsi masyarakat indonesia kepada Profesi Dokter di Indonesia.
Perlu diketahui bahwa Dokter juga adalah Manusia, Hakim juga adalah manusia , ada yang jahat sepertI Akil Muchtar yang sangat rakus Harta/Uang dan Perempuan. lagi pula ilmu kedokteran dimana2 didunia ini adalah sama. Karena yang dipelajari dari jaman hipokrates atau sebelumnya sampai saat ini yaitu anatomi manusia (dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki) yang tidak pernah berubah. Yang berbeda adalah prakteknya saja , kalau dinegara Maju seperti Australia..mereka menawarkan alternatif yang sangat erat kaitannya dengan Pembiayaan dan Garansi.Inilah penyebab Biaya kesehatan di Luar Negeri sangat mahal dibandingkan di Indonesia) Di Luar Negeri persalinan Normal ditangani oleh selefel Bidan,kalau mau ditangani dokter harus dibayar mahal terlebih lagi kalo ditangani seorang ahli Kandungan. Di Indonesia menurut Menkes bolehlah ditangani oleh Dukun
Terlatih. Tarif SC di Australia berfariasi mulai yang murah(ukuran Indonesia sangat mahal) dengan menggunakan Pisau sampai dengan yg mahal menggunakan sinar dan tergantung siapa yang melakukannya, di Indonesia khususnya di RS Pemerintah tarifnya sama sesuai tarif Menkes (dengan menggunakan Pisau tumpul atau pisau tajam sama saja), dikerjakan bidan, dokter umum atau ahli, podowae .
Si Agung pembawa acara TV One melemparkan bola “Demo Dokter” yang disambut oleh si Reza “Itu adalah kesalahan kedua para dokter” katanya, Karena Demo dokter lantas mengaitkan dengan sumpah dokter dan pasien yang terlantar. Sekali lagi saya sebagai Manusia biasa dan sebagai ummat beragama sangat resah kalau ada yang menghina/mempersalahkan Keyakinanku.., sebagi seorang berprofesi dokter sangat tersinggung karena segala upaya yang telah dilakukan dengan “DEMI ALLAH” masih dipersalahkan dengan “DEMI KEADILAN”, Secara psikologis, secara psikologis para dokter atas nama “SOLIDARITAS” menyingsingkan stetoskop turun ke jalan2, sebagai dokter yang juga warga negara di era reformasi pada republik yang menjungjung tinggi demokrasi,
wajarkan pak Reza?? kalau mereka turun kejalan, saya yakin pada hari/jam dokter turun kejalan waktu itu tidak ada pasien gawat darurat yang terbengkalai.Boleh jadi video klip yang ditampilkan seorang nenek yang memperagakan persalinan di WC salah-satu puskesmas di Sumba Timur adalah rekayasa, atau hanya persalinan normal yang nota bene dapat dilakukan oleh dukun terlatih.kalau toh mau dipersalahkan.., persalahkanlah dukun terlatihnya atau puskesmasnya tetapi bukan Dokternya. Seandainya waktu itu  (hari Demo) ada seorang isteri katakanlah Namanya Suaminya adalah Hakim , Isteri Pak Hakim mau melahirkan dan Tuhan menghendaki lain ,Istrinya pak hakim tersebut selamat dengan persalinan normal tetapi bayinya meninggal karena emboli air ketuban (maaf sedikit medis..lihat catatan sebagai penjelasan untuk mereka non medik) , apakah dokter itu dipersalahkan/di pidana?.., Kalau Isteri Pak Hakim tersebut adalah isteri pertama, Pasti Pak Hakim tersebut akan melakukan tuntutan pidana kepada dokter DEMI KEADILAN (karena dokter tidak ada ditempat/kelalaiannya menyebabkan orang meninggal dalam rahim) .Padahal dokter yang bertanggung jawab ditempat itu sementara dalam perjalanan hanya jalannya macet sehingga terlambat, atau dokter tersebut tidak datang karena tidak dihubungi.Lain-halnya Kalau Isteri Kedua/ atau isteri simpanan mungkin pak hakim berterimakasih malah…
Sepertinya Dunia ini tidak bulat lagi tetapi berbenjol akibat permainan kata2.
Pada dialog terakhir…, sepertinya acara di TV One tersebut menggeneralisi r bahwa sebagian praktek dokter di Indonesia kurang berahlak …dengan contoh / membandingkan seorang dokter berpraktek yang dibayar sukarela dengan Dokter bertarif tetap dan Pasti serta dokter menetapkan diagnose Demam berdarah atau Demam Tipoid tanpa pemeriksaan Laboratorium. Sekali lagi membandingkan dokter Australia yang katanya lebih baik dari pada dengan dokter Indonesia…, betul2 acara yang sangat tidak etis.

Disisi lain, saya mencoba melihat kasus ini  yaitu melihat kebelakang dalam posisi diantara selangkang yg tidak layak seperti biasanya yaitu melihat kasus dari posisi duduk atau berdiri yaitu : Pengamatan saya adalah Hakim MA memutuskan yang dilandasi DEMI KEADILAN …,bukan DEMI ALLAH. apalagi Demi Uang, Harta,Wanita dan Jabatan dan jadi  keputusan sangat dipaksakan, sebagai faktanya yang tidak bisa disangkal adalah terbukti ” Dr.Ayu dan kawan2 melakukan Operasi SC menyebabkan orang meninggal Dunia” kata Malpraktek saya sengaja tidak ikutkan karena Dr Ayu telah bekerja sesuai SOP RS (Standar Operation Procedure). begitulah sudut pandang saya melihat kasus ini celah selangkangku. sangat dipaksakan dan besar kemungkinan adalah kesalahan mengambil keputusan

Satu lagi yang mungkin bagus diambil sebagai pertimbangan yaitu Sebagai Manusia biasa mempunya 4 tingkatan kebutuhan. yaitu 1. Makan minum, 2.Laki-laki membutuhkan Wanita, 3.Harta, 4.Jabatan dan 5.Nama Kebesaran dan kekuasaan (Waham). kebutuhan kelima ini tidak wajar dan hanya ada pada orang sakit jiwa lagi Rakus. Saya yakin Hakim MA (khususnya Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar hakim Agung yang menjebloskan Dokter Ayu) yang sekarang telah terpenuhi keempat kebutuhan tersebut , selain kebutuhan kelima.Karena tidak mungkin beliau-beliau diangkat /terpilih menjadi hakim kalau sakit jiwa, atau memiliki kebutuhan kelima (Lihat Juga kontroversi fonis hakim)

Sebagai orang awam bertanya2 kenapa Kasus Engelina Sondahk Keputusan peradilan 4 tahun, di MA menjadi 12 tahun penjara dan
Keputusan Peradilan Dr Ayu Bebas, di MA 10 Bulan penjara padahal sama-sama Demi Keadilan …, jawabannya… hanya KEADILAN di MA yang mengetahuinya.., Katanya Hakim pengadilan Tipikor menerapkan pasal berbeda dengan Hakim MA pada kasus ES sedangkan kasus Dr Ayu.., Pengadilan Tinggi menado menerima keterangan MKEK sedangkan MA tidak menerima hanya berdasarkan hasil Visum (Pasien meninggal karena Emboli) yang tidak ada hubungan sebab akibat dari SC, dan ada yang mengatakan bahwa malpraktek yang dimaksud MA adalah memalsukan tanda tangan. dan lainnya mengatakan malpraktek karena dokter tersebut tidak mempunyai SIP (Surat Izin Praktek). coba kata malpraktek diganti kalimat Memalsukan tanda tangan atau Tidak mempunyai izin Praktek.akan terdengar lucu..(selengkapnya lihat  informasi  di Dokter dan Hakim )

Keanehan :

Bisa saja penilaian pengadilan negeri dan hakim Artdjo berbeda dalam menilai masalah medis. Bila perbedaan penilaian masalah hukum tidak masalah. Misalnya dokter Ayu dinyatakan bersalah oleh Hakim negeri Menado dengan menghukum 5 bulan, kemudian hakim tinggi menghukum 10 bulan.
Bila terjadi perbedaan dalam penilaian masalah medis dan  tidak berkaitan dengan masalah hukum merupakan kesalahan fatal. Bila dalam menilai kesalahan medis antara hakim pengadilan negeri dan hakim Agung karena perbedaan persepsi dalam menilai medis maka sangat disayangkan. Dengan data dan informasi yang sama dari pengadilan hakim pengadilan negeri Menado dan Hakim Agung menjadi berbeda.

Hakim Artidjo dan Tidak kebal Hukum, Artidjo Alkostar hakim Agung yang menjebloskan Dokter Ayu menegaskan, tidak ada satu profesi pun yang boleh ditempatkan berada di atas hukum. Hal itu sama saja dengan oligarki. “Jangankan dokter, hakim pun bisa dipidana, bisa dihukum berat. Kok (dokter) merasa mau berada di atas hukum. Tidak boleh di mana pun berada. Tidak ada konstitusi yang membenarkan. Tidak boleh ada arogansi profesi. Semua harus patuh pada hukum,” ungkap Artidjo, Rabu (27/11/2013). Pernyataan tersebut dilontarkan menanggapi aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para dokter.

Ada apa dengan Artidjo??. Artidjo sebagai hakim senior berpengalama tidak salah mengemukan opini tersebut. Dalam kepakaran hukum dan integritasnya masyarakat tidak akan ada yang menyangsikan. Tetapi kelemahan Artidjo saat ini hanya karena menilai berdasarkan berkas yang ada

Mungkin jalan terbaik adalah Sebaiknya Presiden membuat PERPU yang isinya:
Mengubah sumpah hakim dalam mengambil keputusan menjadi “DEMI ALLAH” dan Peradilan propessi (dokter) selalu mempertimbangkan Majelis Kode Etiknya atau sejenisnya. karena bila tidak , demo akan berkepanjangan dengan segala bentuk dan dampaknya atau momen ini menjadi pemicu LEDAKAN BIAYA PELAYANAN KESEHATAAN, karena dokter siap-siap mengumpulkan biaya tak terduga di Pengadilan yang pasti akan dibebankan kepada pasien. Sebagai awal reaksi, semua dokter residen di perifer minta kembali, tidak mau lagi melakukan operasi/ praktek kedokteran

Pekerjaan/profesi saya adalah Pemulung uang recehan tapi uang besar boleh juga dan saya mencoba berpikir sebagai Dokter/berprofesi dokter untuk membuat tulisan tersebut diatas

Profesi Dokter sangat berbeda dengan Profesi Dagang, tetapi kalau dokter berdagang maka bertambah sakitlah dunia ini.

~ by Nina on December 2, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: